JAKARTA, BALITACERDAS.COM – Disrupsi teknologi sebagai dampak pandemi Covid-19 menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas layanan dan inovasi. Oleh karena itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengajak insan pers di tanah air untuk berani beradaptasi dan berinovasi. 

Menurutnya, disrupsi teknologi dan pandemi mendorong pers untuk menjaga relevansi dan eksistensi media, Mengutip pernyataan CEO Cisco John Chambers, Menteri Johnny menyatakan “If you don’t innovate fast, disrupt your industry, disrupt yourself you will be left behind.”

“Melalui tugas jurnalistik yang diemban oleh rekan-rekan wartawan-wartawati sekalian, mari jadikan ini sebagai ladang pengabdian kepada masyarakat, sekaligus wujud aktualitas dan pelayanan terbaik kepada Tuhan,” ujarnya saat membuka acara Buka Tahun Bersama Paguyuban Wartawan Katolik (PWKI) yang berlangsung virtual, dari Jakarta Pusat, Selasa (22/2/2022). 

Menkominfo menjelaskan selama masa pandemi Covid-19, terjadi pembatasan mobilitas dan aktivitas fisik. Hal itu telah mengubah cara hidup masyarakat, berkomunikasi hingga mengakses dan mencari sumber informasi dari media. 

“Di sektor konsumsi media, terjadi pergeseran konsumsi media yang dinikmati oleh masyarakat. konsumsi media konvensional mengalami tren yang terus menurun selama satu dekade terakhir, dari tahun 2011 hingga tahun 2021,” jelasnya.

Menurut Menteri Johnny, tren tersebut terlihat dari konsumsi media cetak yang turun sebesar 50%, televisi sebesar 24% dan radio sebesar 19%. Di sisi lain media berbasis dekstop mengalami peningkatan konsumsi sebesar 25% dan media berbasis seluler sebesar 460%.

“Di sektor produksi, 75% eksekutif perusahaan global di bidang komunikasi, jurnalisme dan media massa menyampaikan bahwa kebutuhan untuk berinovasi tidak pernah lebih tinggi dari sebelumnya. Lebih lanjut, 86% dari para eksekutif tersebut percaya bahwa untuk bersaing di dunia yang serba digital dibutuhkan strategi bisnis yang memposisikan audiens serta pelanggan sebagai mitra kerja,” paparnya.

Berdasarkan data tersebut, Menkominfo mendorong ekosistem pers perlu terus berinovasi dan beradaptasi dalam menghadapi disrupsi teknologi dan pandemi Covid-19. “Terus perkuat kolaborasi, tumbuhkan inovasi bersama-sama kita songsong Indonesia terkoneksi, makin digital, makin maju,” ungkapnya.

Publisher Rights

Menteri Johnny menjelaskan dalam Peringatan Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari lalu, Pemerintah telah membahas berbagai upaya dalam menciptakan fair level of playing fields sebagai pelaku industri media mainstream konvensional dengan media baru, the new media seperti over the top.

“Salah satu upaya konkret yakni Pemerintah akan menindaklanjuti usulan draft publisher rights yang diajukan Dewan Pers dan Task ForceMedia Sustainability berupa payung hukum setingkat peraturan pemerintah,” ujarnya.

Menkominfo menegaskan, saat ini, Pemerintah tengah membahas yang intensif berkaitan dengan regulasi tersebut.  “Meskipun bukan silver bullet untuk memastikan ekosistem industri pers yang independen dan berkelanjutan, ketentuan publisher rights merupakan salah satu alternatif kebijakan publik yang menempatkan posisi industri pers setara dengan platform digital dengan jumlah pengguna yang besar,” tandasnya.

Melalui payung hukum tersebut, Menteri Johnny berharap dapat mewujudkan konvergensi industri media di tanah air. Selain itu, kebutuhan akan pembentukan publisher rights tidak terlepas dari pandemi Covid-19 yang telah mengakibatkan disrupsi pada berbagai bidang kehidupan termasuk pers dan jurnalisme. 

“Kami telah dan akan terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga-lembaga terkait dalam penyusunan regulasi ini untuk merespons tuntutan perkembangan digital,” imbuhnya.

Acara Buka Tahun bersama PWKI yang diselenggarakan secara virtual dengan tema “Membuat Indonesia Tersenyum Kembali” itu, turut dihadiri Ketua PWKI Asni Ovier, Penasihat PWKI Putut Prabantoro, para biarawan-biarawati Katolik dari berbagai negara, umat Katolik dan para anggota PWKI dari seluruh Indonesia.*