<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BalitaCerdas &#187; Perilaku Anak</title>
	<atom:link href="http://balitacerdas.com/new/category/perilaku-anak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://balitacerdas.com/new</link>
	<description>Info Anak Balita Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2009 16:50:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mengapa anak-anak saya selalu bertengkar?</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/04/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/04/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 09:50:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2005/08/09/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore, dua orang saudara kandung, Ana (6 tahun) dan Ani (4,5 tahun) sedang bertengkar memperebutkan sebuah boneka. Ani (sambil menangis) : &#8221;Mama..!! aku mau boneka yang lagi dipegang kakak&#8230;, aku ingin sekali main dengan boneka itu&#8230;!! (sambil menangis dengan keras)&#8221; Ana : &#8221;Mama..!!! adek ingin ambil bonekaku&#8230; aku ngga&#8217; mau nanti malah rusak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu sore, dua orang saudara kandung, Ana (6 tahun) dan Ani (4,5 tahun) sedang bertengkar memperebutkan sebuah boneka.</p>
<p>Ani (sambil menangis) : &#8221;Mama..!! aku mau boneka yang lagi dipegang kakak&#8230;, aku ingin sekali main dengan boneka itu&#8230;!! (sambil menangis dengan keras)&#8221;<span id="more-19"></span></p>
<p>Ana : &#8221;Mama..!!! adek ingin ambil bonekaku&#8230; aku ngga&#8217; mau nanti malah rusak ma..</p>
<p>Mama (lagi menghitung uang belanja) : &#8221;Adek.. mainan mu kan banyak, main dengan boneka yang lain saja ya.., jangan nangis.. mama lagi pusing mikirin uang belanja yang pas-pasan ini..!!! (dengan suara keras).&#8221;</p>
<p>Ani : &#8221;Adek cuma ingin boneka yang sekarang dipegang kakak, adek ngga mau main boneka adek, karena semua sudah jelek-jelek.. dan rusak..!! (sambil tetap menangis)&#8221;</p>
<p>Mama (dengan nada yang kesal) : &#8221;Aduh..!! kalian kok bertengkar terus.. diam! diam!!! mama lagi pusing.., kakak..!! berikan boneka mu sama adek, masa dipinjam sebentar aja sama adek tidak boleh, sebagai kakak itu harus mengalah.. ayo berikan sekarang..!! (dengan suara yang keras dan mata yang melotot)&#8221;</p>
<p>Ilustrasi diatas, paling tidak cukup membawa kita mengingat kebelakang, adakah peristiwa diatas juga terjadi terhadap kita. Sebagai orang tua, kita merasa bahagia bila memiliki anak lebih dari 1 sebagaimana kata pepatah &#8216;banyak anak banyak rezeki&#8217;, namun kebahagiaan itu sering kali terusik oleh pertengkaran anak-anak yang tentu saja dapat menimbulkan stres tersendiri.</p>
<p>Kenapa sih mereka selalu bertengkar..?</p>
<p>Apakah semua kakak adik itu selalu bertengkar..?</p>
<p>Sibling Rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan diantara mereka. Hal ini tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling rivalry akan semakin besar apabila mereka berjenis kelamin sama dan jarak usia keduanya cukup dekat.</p>
<p>Apa penyebab terjadinya Sibling rivalry ?</p>
<p>1. Anak-anak sangat bergantung akan cinta dan kasih sayang orang tuanya.</p>
<p>Mereka merasa terancam apabila orang tua membaginya kepada orang lain. Hal ini sering terlihat saat ibu hamil, anak mulai menunjukan protesnya melalui perilaku yang &#8216;sulit&#8217;.</p>
<p>2. Kecenderungan terhadap satu anak.</p>
<p>Hal ini dapat menimbulkan perasaan kesal dan cemburu bagi anak yang lain dan anak yang lain akan merasa tersisihkan.</p>
<p>3. Bila seorang anak menyadari kekurangannya dari saudaranya yang lain.</p>
<p>Terlebih apabila si anak berjenis kelamin sama dan jarak usia yang berdekatan, maka diam-diam anak akan mengembangkan rasa benci terhadap saudaranya tersebut. Biasanya ketika orang tua sering memuji kemampuan anak yang lain dihadapan anak yang memiliki kekurangan, tentu saja akan membuat anak yang Ã¢â‚¬ËœkekuranganÃ¢â‚¬â„¢ menjadi minder dan merasa kurang diterima ditengah-tengah keluarga.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya sibling rivalry?</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi maupun intensitasnya.</p>
<p>1. Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik.</p>
<p>Pada saat hamil, libatkan anak untuk mempersiapkan kelahiran seperti ajak anak memilih pakaian ataupun perlengkapan bayi lainnya dan juga beritahukan bahwa adik barunya tidak akan merebut perhatian ibunya.</p>
<p>2. Beri setiap anak perhatian dan cinta yang khusus dan istimewa.</p>
<p>Berikanlah perhatian yang khusus pada setiap anak, terutama bila anak tidak sepandai atau semenarik saudaranya, sehingga ia juga merasa dirinya istimewa.</p>
<p>3. Jangan membanding-bandingkan anak.</p>
<p>Hindarkan perkataan &#8221;kamu kok bandel banget, lihat adikmu, sudah pintar, penurut lagi, tidak seperti kamu.. mama kehabisan akal menghadapi kamu..!&#8221; Ucapan ini tidak akan memotivasi anak namun justru perlahan-lahan menumbuhkan rasa cemburu dan kebencian terhadap saudaranya tersebut.</p>
<p>4. Jangan menjadikan anak sebagai pengasuh adiknya.</p>
<p>Jangan paksa anak yang lebih tua sebagai pengasuh adiknya. Karena anak akan merasa terbebani dan mempengaruhi anak menjadi lebih dewasa dari waktunya.</p>
<p>5. Buatlah pembagian tugas rumah masing-masing anak.</p>
<p>6. Kembangkan dan ajarkan anak bersikap empati dan memperhatikan saudaranya yang lain.</p>
<p>Bagaimanapun juga, persaingan antar saudara kandung (sibling rivalry) dalam keluarga tidak dapat dihindari. Namun, naluri keibuan, kasih sayang dan kepekaan anda sebagai orang tua akan sangat membantu meminimalkan perasaan cemburu dan permusuhan diantara mereka, sehingga akan timbul perasaan empati dan kesediaan sikap untuk berbagi dengan saudaranya yang lain.</p>
<p>Tidak ada yang dapat membahagiakan kecuali senantiasa melewatkan waktu-waktu anda bersama senyuman lucu buah hati anda.</p>
<p>&#8212;<br />
Disampaikan oleh : MELLY PUSPITASARI,PSI.<br />
(Mobile : 0815-3611-9777)<br />
Psikolog HUMANIKA (Human Development Centre) &amp; RS AWAL BROS Batam<br />
Disampaikan Pada Talk Show Batam TV, 18 Oktober 2003, Pukul 17.00; Hotel Nagoya Plaza-Batam</p>
<p>Jadwal praktek di &#8211; HUMANIKA: Senin, Selasa &amp; Sabtu : 18.00 &#8211; 21.00<br />
RS Awal Bros Batam : Rabu-JumÃ¢â‚¬â„¢at : 14.00 &#8211; 17.00</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/04/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIPS: Bagaimana Membuat Anak Suka Belajar</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/04/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/04/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 15:24:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2007/04/05/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR: 1. SUASANA YANG MENYENANGKAN adalah SYARAT MUTLAK yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR:</p>
<p>1. <strong>SUASANA YANG MENYENANGKAN</strong> adalah <strong>SYARAT MUTLAK</strong> yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.<span id="more-17"></span><br />
2. Membuat <strong>ANAK SENANG BELAJAR</strong> adalah<strong> JAUH LEBIH PENTING</strong> daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.</p>
<p>3. Kenali <strong>TIPE DOMINAN CARA BELAJAR ANAK</strong>, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.</p>
<p>4. Belajar dengan <strong>JEDA WAKTU ISTIRAHAT</strong> setiap 20 menit akan JAUH LEBIH EFEKTIF daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.</p>
<p>5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi SANGAT ANTUSIAS dan SEMANGAT untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak SESUAI <strong>DENGAN PERKEMBANGAN ANAK</strong>. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.</p>
<p>Oleh: Taufan Surana</p>
<p>&#8212;<br />
Catatan Redaksi:<br />
Artikel ini telah diterbitkan di Buletin Komite Sekolah TKIT/SDIT Full Day School Nur Hikmah Pondok Gede, BEKASI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/04/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Menghentikan Dot Tanpa Penolakan</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 15:27:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2006/06/12/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kita yang sudah mengalami, menghentikan anak menggunakan dot (seperti halnya juga menghentikan ASI) menjadi saat-saat yang penuh &#8216;perjuangan&#8217;. Perasaan antara &#8216;harus tega&#8217; dan &#8216;kasihan&#8217; menjadi satu begitu melihat anak menangis tersedu-sedu hanya karena tidak boleh lagi minum pakai dot. Jika anda sudah membaca ebook saya &#8220;3 Tahun Pertama yg Menentukan&#8221; (http://ebook.balitacerdas.com), tindakan yg akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kita yang sudah mengalami, menghentikan anak menggunakan dot (seperti halnya juga menghentikan ASI) menjadi saat-saat yang penuh &#8216;perjuangan&#8217;. Perasaan antara &#8216;harus tega&#8217; dan &#8216;kasihan&#8217; menjadi satu begitu melihat anak menangis tersedu-sedu hanya karena tidak boleh lagi minum pakai dot.<span id="more-18"></span><br />
Jika anda sudah membaca ebook saya &#8220;3 Tahun Pertama yg Menentukan&#8221; (http://ebook.balitacerdas.com), tindakan yg akan sangat memudahkan kita dalam mengajarkan disiplin kepada anak, atau meminta anak menuruti apa yg kita inginkan, adalah dengan menerapkan SIGNAL AWAL.</p>
<p>Sekitar 2 minggu yang lalu, ketika anak ke-3 saya (Fuka) tepat menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami memutuskan untuk menghentikan Fuka minum pakai dot, dan BERHASIL dengan sangat memuaskan, tanpa ada penolakan dari Fuka, tanpa ada tangisan tersedu-sedu di malam hari.</p>
<p>Kali ini, penerapan signal awal kami terapkan kepada Fuka dalam waktu beberapa minggu sebelum Hari-H penghentian dot.</p>
<p>Caranya ?</p>
<p>Beberapa minggu sebelumnya, di setiap kesempatan yg memungkinkan saya dan istri sering mengatakan bahwa Fuka sudah besar, sambil pura-pura membandingkan tinggi badan Fuka yang sudah menjadi lebih tinggi.</p>
<p>Misalnya, &#8220;Kemarin Adek Bayi (note: Fuka memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Adek Bayi) tingginya segini (sambil menunjuk leher), sekarang sudah nambah tinggi jadi segini (sambil menunjuk kepalanya). Adek Bayi sudah besar ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Kebetulan ada keponakan yg umurnya baru 1 tahun, namanya Naufal, kami &#8216;manfaatkan&#8217; untuk membandingkan lebih lanjut. Kami sering mengatakan kepada Fuka, &#8220;Adek Naufal masih kecil banget ya.., makanya sukanya minum pakai dot&#8221;. Biasanya Fuka akan mengatakan, &#8220;Dot Adek Bayi dikasihkan ke Adek Naufal aja ya.. &#8216;kan Adek Bayi sudah besar&#8221;. Kemudian kami merespons, &#8220;Iya ya.. nanti kapan-kapan kita kasih ke Adek Naufal aja ya..&#8221;.</p>
<p>Dengan melakukan hal diatas beberapa waktu, Fuka mulai &#8216;terkondisikan&#8217; bahwa dia sudah besar, dan sudah tidak perlu lagi minum memakai dot.</p>
<p>Pada saat Hari-H tiba, sebelum saya berangkat ke kantor suasana pagi kami buat cukup menyenangkan, kemudian istri saya mengatakan kepada Fuka,&#8221;Mulai hari ini Adek Bayi tidak minum pakai dot lagi. Botol dotnya enaknya digimanain ya?&#8221;.</p>
<p>Pertanyaan diatas sengaja dilakukan supaya apa yang akan dilakukan menjadi keputusan dari Fuka sendiri dan bukan paksaan dari orang lain.</p>
<p>Karena sudah terkondisikan, Fuka menjawab,&#8221;Botol yang kecil dibuang aja, yang besar dikasihkan ke Adek Naufal&#8221;.</p>
<p>Kemudian istri saya mengambil plastik sampah,&#8221;Yang kecil dibuang disini, yang besar dimasukkan ke tas Ayah, nanti sama Ayah dikasihkan ke Adek Naufal&#8221;.</p>
<p>Kemudian Fuka diminta membuang sendiri tas plastik sampahnya, dan memasukkan sendiri botol dot besarnya ke dalam tas saya.</p>
<p>Sampai disini proses berjalan sangat lancar. Saya berangkat ke kantor, dan Fuka sudah sadar bahwa dia tidak punya botol dot lagi.</p>
<p>Beberapa jam setelah tiba di kantor, istri saya telephone menyampaikan kalau Fuka agak rewel tidak mau minum susu karena tidak pakai dot. Di telephone saya tegaskan kepada Fuka, &#8220;Tadi pagi &#8216;kan dot kecilnya sudah dibuang sama Adek Bayi sendiri. Yang besar sudah Ayah kasihkan ke Adek Naufal. Jadinya Adek Bayi harus minum susu pakai gelas dong ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Awalnya Fuka tetap tidak mau minum susu, tetapi menjelang siang akhirnya mau minum dengan gelas untuk anak balita (yang pegangannya ada dua itu loh..).</p>
<p>Biasanya, masalah terbesar timbul di malam hari pada saat anak terbangun minta minum susu, seperti yang dulu kami alami dengan anak pertama kami, Rihan (kebetulan anak kedua kami, Afi, tidak pernah minum pakai dot). Kamipun telah siap untuk &#8216;perang&#8217; melawan rasa kasihan yang akan terjadi.</p>
<p>Tetapi untuk kasus Fuka kali ini, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi. Kami tidak mengalami masalah di malam hari. Malam itu Fuka terbangun, melihat sekeliling sebentar, kemudian tidur lagi. Kami sendiri sempat kaget, kok Fuka tidak rewel mencari dotnya lagi.</p>
<p>Kami yakin ini bisa dilalui sebagai hasil yang telah kami lakukan beberapa waktu sebelumnya itu.</p>
<p>Setelah itu semuanya berjalan lancar, Fuka tidak lagi minum susu memakai dot.</p>
<p>Hal positif yang terjadi setelah itu adalah:</p>
<p>1. Fuka mau makan dengan baik, jauh lebih banyak dari sebelumnya.</p>
<p>Biasanya, jika anak terlalu tergantung dengan susu, anak menjadi susah makan. Maunya minum susu terus. Jika kita orangtua mengikuti terus kemauan anak yang seperti ini, akan sulit menghentikannya nanti.</p>
<p>2. Fuka tidak mengompol lagi.</p>
<p>Hal ini sangat memberi manfaat. Dengan memuji anak bahwa dia tidak mengompol, rasa percaya diri anak kelihatan meningkat. Setiap kali dia bangga bahwa dirinya bukan anak kecil lagi, sehingga anak menjadi lebih mandiri.</p>
<p>Selain itu, kita tidak perlu mengeluarkan lagi biaya pembelian diapers yang cukup mahal itu (lumayan &#8216;kan..).</p>
<p>3. Kami bisa istirahat lebih baik karena tidak perlu harus bangun membuatkan susu lagi.</p>
<p>Yang perlu DIINGAT dalam hal menghentikan dot ini, jika anak menjadi rewel, itu adalah hal yang SANGAT WAJAR.</p>
<p>Seperti halnya kita orangtua juga, anak awalnya pasti akan menjadi tidak nyaman dengan perubahan &#8216;negatif&#8217; yang dialaminya. Tugas kita untuk mencari alternatif kegiatan sehingga rasa tidak nyaman itu bisa dikurangi dan akhirnya bisa ditinggalkan.</p>
<p>Begitu kita memutuskan untuk melakukan penghentian dot, lakukan dengan tegas (BUKAN berarti sambil marah loh!). Jangan sampai kita menyerah begitu melihat anak menangis meminta dotnya. Jika hal ini dilakukan berulang kali, kita akan menjadi sangat kesulitan melakukannya lagi, karena anak merasa bahwa dia bisa merubah apa yang telah menjadi keputusan orangtuanya.</p>
<p>Jadi, untuk menghentikan suatu kebiasaan anak, faktor PENTING dan EFEKTIF yang bisa dilakukan adalah:</p>
<p>1. Pemberian SIGNAL AWAL kepada anak tentang perubahan yang akan terjadi pda dirinya.</p>
<p>2. Tindakan TEGAS tapi tetap dengan menunjukkan KASIH SAYANG sehingga anak memahami bahwa apa yang kita lakukan memang akan terjadi.</p>
<p>3. KERJASAMA orangtua dan pihak lain sehingga tidak terjadi perbedaan dalam memperlakukan anak.</p>
<p>Selamat Mencoba.. dan ditunggu cerita pengalaman anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu Cara Lagi Mengajarkan Disiplin Tanpa Penolakan dari Anak</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/02/satu-cara-lagi-mengajarkan-disiplin-tanpa-penolakan-dari-anak/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/02/satu-cara-lagi-mengajarkan-disiplin-tanpa-penolakan-dari-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Feb 2008 15:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/12/05/satu-cara-lagi-mengajarkan-disiplin-tanpa-penolakan-dari-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam ebook saya, 3 Tahun Pertama yang Menentukan, tindakan ke-8 dari &#8221;10 Tindakan Penting untuk Merangsang Perkembangan Otak&#8221; adalah &#8221;Menggunakan Disiplin sebagai Sarana Belajar&#8221;, yang mana diuraikan tentang sekitar 9 cara untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anak saya dengan hasil yang memuaskan. Dari 9 cara itu, salah satunya yang merupakan &#8216;andalan&#8217; saya adalah &#8221;memberikan signal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam ebook saya, 3 Tahun Pertama yang Menentukan, tindakan ke-8 dari &#8221;10 Tindakan Penting untuk Merangsang Perkembangan Otak&#8221; adalah &#8221;Menggunakan Disiplin sebagai Sarana Belajar&#8221;, yang mana diuraikan tentang sekitar 9 cara untuk mengajarkan disiplin kepada anak-anak saya dengan hasil yang memuaskan.<span id="more-20"></span><br />
Dari 9 cara itu, salah satunya yang merupakan &#8216;andalan&#8217; saya adalah &#8221;memberikan signal atau peringatan tentang sesuatu hal yang akan terjadi&#8221;. Cara ini sangat efektif untuk meredam penolakan maupun kemarahan (tantrum) anak untuk mengakhiri kegiatan atau permainan yang sedang dilakukannya.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, silahkan dibuka lagi ebook<br />
3 Tahun Pertama yang Menentukan (klik disini) tersebut.</p>
<p>Ternyata, ada 1 hal lagi yang telah saya lakukan dan terlewatkan untuk diuraikan di dalam ebook saya itu. Saya baru menyadarinya setelah ada member BalitaCerdas.com yang menanyakan, &#8221;Bagaimana cara efektif mengakhiri kegiatan anak yang bukan permainan seperti contoh di dalam ebook, tapi misalnya jika anak tidak mau selesai mandi karena senang berendam di dalam air?&#8221;</p>
<p>Cara yang selalu saya gunakan sampai dengan saat ini, termasuk kepada anak ke-3 saya, Fuka (14 bulan), adalah dengan menggunakan HITUNGAN untuk mengakhiri sesuatu.</p>
<p>Misalnya, sewaktu Fuka mandi dan tidak mau diangkat untuk selesai, maka saya akan mengatakan, &#8221;Setelah dihitung sampai 10, mandinya sudah ya&#8230;&#8221;. Kemudian saya akan mulai menghitung di depan Fuka sambil menunjukkan jari,&#8221;Satu&#8230; dua&#8230; tiga&#8230;&#8221;, dst. Begitu sampai hitungan sepuluh, saya katakan &#8221;sudah selesai yook&#8230;&#8221;, kemudian mengangkatnya. Dengan cara seperti ini, Fuka TIDAK PERNAH menangis dan menolak ajakan tsb. Tapi, jika tiba-tiba Fuka diangkat untuk berhenti mandi, dia akan menolak dan menangis.</p>
<p>Disitulah pentingnya memberikan &#8221;signal awal&#8221; kepada anak, sehingga secara emosi dan mental anak menjadi siap dan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sehingga tidak ada perubahan emosi secara tiba-tiba yang akan membuat anak menjadi tidak nyaman.</p>
<p>Cara diatas akan lebih efektif jika Si Kecil sudah sering diajak bermain angka dan hitungan, sehingga dia tahu apa maksud dari hitungan yang kita katakan.</p>
<p>Cara HITUNGAN ini juga sangat efektif kami terapkan kepada kakaknya, Afi (4 tahun bulan Desember ini), untuk hal-hal yang tidak disukainya seperti misalnya, memulai minum obat, dll.</p>
<p>Satu lagi&#8230;, meminta anak untuk menentukan sendiri batasan angkanya (tidak selalu diakhiri dengan angka 10) akan membuat cara ini semakin efektif karena anak memberi batasannya atas kemauannya sendiri.</p>
<p>Silahkan mencoba cara ini untuk mengatasi berbagai macam hal yang sering menimbulkan pertentangan antara anda dan si kecil. Anda akan tahu sendiri, kapan harus menggunakan cara hitungan ini, dan kapan menggunakan cara seperti di dalam ebook itu.</p>
<p>Tentu saja, 8 cara lainnya yang sudah diuraikan di dalam ebook 3 Tahun Pertama yang Menentukan juga HARUS tetap diterapkan bersama-sama untuk mengatasi berbagai kondisi lain serta untuk mengembangkan kematangan emosi dan disiplin anak anda.</p>
<p>Ditunggu juga tips lain dari teman-teman jika punya cara lain yang juga efektif untuk mengatasi penolakan anak.</p>
<p>Oleh: Taufan Surana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/02/satu-cara-lagi-mengajarkan-disiplin-tanpa-penolakan-dari-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>4 Trik Jitu agar Si Kecil Tak Sering Bertengkar</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/02/4-trik-jitu-agar-si-kecil-tak-sering-bertengkar/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/02/4-trik-jitu-agar-si-kecil-tak-sering-bertengkar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 05:36:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/09/23/4-trik-jitu-agar-si-kecil-tak-sering-bertengkar/</guid>
		<description><![CDATA[Karen (32 tahun) hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kedua buah hatinya &#8216;asyik&#8217; bertengkar.. Riza (5tahun) dan Inggrid (4 tahun) sepertinya tidak pernah capai untuk saling berebut sesuatu. Mulai dari remote tv, playstation, buku cerita sampai memandikan Choco, anjing peliharaan mereka. Kalau sudah begitu Karen hanya tinggal tunggu waktu saja sampai salah seorang mereka menangis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karen (32 tahun) hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat kedua buah hatinya &#8216;asyik&#8217; bertengkar.. Riza (5tahun) dan Inggrid (4 tahun) sepertinya tidak pernah capai untuk saling berebut sesuatu. Mulai dari remote tv, playstation, buku cerita sampai memandikan Choco, anjing peliharaan mereka. Kalau sudah begitu Karen hanya tinggal tunggu waktu saja sampai salah seorang mereka menangis dan mengadu kepadanya.<span id="more-21"></span><br />
Banyak orang menyarankan sebaiknya punya anak dengan rentang waktu kelahiran sekitar 1-2 tahun. &#8221;Supaya capeknya sekalian&#8221;, itu alasannya. Membesarkan 1 orang anak saja sudah cukup melelahkan apalagi 2 orang anak sekaligus! Kan sampai dengan umur 5 tahun adalah saat-saat paling penting bagi pertumbuhan anak. Sebagai seorang ibu tentu kita tidak mau mereka &#8216;salah asuhan&#8217;.</p>
<p>Salah satu kesulitan yang mesti dihadapi para orang tua adalah saat anak-anak mereka bertengkar. Dr Fredrick Toke, terapis khusus anak mengatakan: &#8221;Sebagai orang tua kita harus mengajarkan mereka untuk bertoleransi, mempunyai empati dan tahu cara menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah&#8221;.</p>
<p>Berikut 4 trik jitu cara menyiasati agar si kecil bisa berhenti bertengkar:</p>
<p>1. Habiskan Waktu yang Sama untuk Setiap Anak</p>
<p>Situasi: Luna tidak mau keluar kamar sejak pulang sekolah. Dia ngambek begitu tau ayahnya menemani Luigi kursus sepak bola sore ini. Pikir Luna ayahnya tidak adil, karena ia tidak pernah ditemani ayahnya les piano.</p>
<p>Trik: Habiskan waktu yang sama untuk setiap anak. Temani mereka dalam melakukan hobi atau kursus yang mereka kerjakan.</p>
<p>Ahli mengatakan: Rasa marah si kecil karena cemburu akhirnya membuat mereka mencari alasan untuk bertengkar dengan saudaranya. &#8221;Mereka akan berpikir Anda tidak adil karena Anda hanya mencintai yang lain&#8221;, ujar Dr Liz Norris. Nah, menghabiskan waktu bersama, selain menghapus kecemburuan itu juga membuat ikatan kekeluargaan semakin erat.</p>
<p>2. Beri Jam Weker</p>
<p>Situasi: Aldi dan Alda ribut memperebutkan remote TV. Aldi ingin menonton Takashi Castle sementara Alda ingin menonton telenovela Dolce Maria di saluran lain.</p>
<p>Trik: Pasang jam weker! setiap anak diberi waktu 15 menit untuk menonton acara favoritnya. Bila alarm jam sudah berbunyi berarti 15 menit berikutnya untuk anak yang lain.</p>
<p>Ahli mengatakan: &#8221;Adanya jam weker membuat mereka merasa mendapatkan pembagian waktu yang persis sama&#8221;, ujar Dr. Mark W Roberts, profesor di The Idaho state University. Namun sebaiknya Anda mengajak mereka bicara dahulu, ajarkan untuk menyelesaikan masalah bersama dengan sikap toleransi . Bila tidak ada titik temu barulah dipakai trik ini. Jika tidak ada yang mau mengalah, bertindaklah tegas tidak memperbolehkan keduanya menonton televisi, agar mereka tahu bahwa sikapnya bisa merugikan dirinya juga.</p>
<p>3. Beri Kode untuk Barang Setiap Anak</p>
<p>Masalah: Iko dan Erick selalu rebutan botol minum saat mau les berenang. Teriakan &#8221;Ini punya aku!&#8221; jadi sering terdengar di kuping.</p>
<p>Trik: Beri kode tertentu untuk setiap anak. Misalnya warna biru untuk Iko dan warna hijau untuk Erick. Bisa juga menggunakan angka.</p>
<p>Ahli mengatakan: &#8221;Anak-anak sering ribut hanya untuk sesuatu yang tidak jelas. Pemberian kode bisa mengajarkan mereka berempati terhadap sesama, mereka akan mengerti bagaimana perasaan orang lain bila barangnya dipakai atau direbut&#8221;, ujar Dr. Janet Brown penulis What Colour is Your Personality.</p>
<p>4. Periksa Program Televisi</p>
<p>Masalah: Akhir-akhir ini Uli suka memukuli Ila adiknya. Tidak keras sih tapi cukup membuat Ila berteriak mengaduh dan membalas memukul. Ketika ditanya Uli bilang kalau dia sedang berperan menjadi jagoan seperti di film yang ditontonnya.</p>
<p>Trik: Periksa program televisi yang hendak ditonton. Jangan sampai si kecil menonton film yang penuh adegan kekerasan.</p>
<p>Ahli mengatakan: &#8221;Di masa pertumbuhan, anak mudah sekali dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan didengar&#8221;, ujar Joanna Sulli, seorang psikolog anak. Bila sang buah hati ingin menonton suatu program acara pastikan Anda sudah menontonnya terlebih dahulu sebagai pencegahan bila ternyata program tersebut tidak cocok untuk anak-anak.</p>
<p>(sumber: hanyawanita.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/02/4-trik-jitu-agar-si-kecil-tak-sering-bertengkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Ledakan Emosi Anak Anda</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/02/mengatasi-ledakan-emosi-anak-anda/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/02/mengatasi-ledakan-emosi-anak-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 10:38:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/02/04/mengatasi-ledakan-emosi-anak-anda/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anda pernah mengalami kejadian berikut ? Anda dan si kecil anda berjalan-jalan ke mall atau makan di restaurant. Karena suatu hal yang sepele si kecil anda ngambek, marah dan berteriak-teriak minta pulang. Ketika anda anda berusaha membujuknya, si kecil anda justru semakin meledak emosinya, memukul atau melempar apa saja yang ada di sekitarnya. Mungkin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah anda pernah mengalami kejadian berikut ?</p>
<p>Anda dan si kecil anda berjalan-jalan ke mall atau makan di restaurant. Karena suatu hal yang sepele si kecil anda ngambek, marah dan berteriak-teriak minta pulang. Ketika anda anda berusaha membujuknya, si kecil anda justru semakin meledak emosinya, memukul atau melempar apa saja yang ada di sekitarnya.<span id="more-22"></span></p>
<p>Mungkin anda tidak pernah mengalami kejadian seperti di atas, tapi kemungkinan besar anda mengalami hal yang hampir sama. Mengapa hal ini terjadi ?</p>
<p>Menurut banyak ahli perkembangan dan psikolog anak, hal ini sering terjadi karena anak mengalami frustasi dengan keadaannya sedangkan dia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya. Hal ini sering dialami oleh anak usia 2-3 tahun.</p>
<p>Mengapa ? Anak usia tersebut biasanya sudah mulai mengerti banyak hal dari yang didengar, dilihat maupun dialaminya, tetapi kemampuan bahasa atau berbicaranya masih sangat terbatas.</p>
<p>Apa yang bisa anda lakukan ?</p>
<p>1. JANGAN ikutan marah !</p>
<p>Saat anak anda sedang mengalami ledakan emosi, baik dengan teriakan maupun tindakan fisik lainnya, dia tidak akan bisa menerima alasan atau bujukan, tetapi justru terhadap apapun yang anda lakukan anak akan merespons secara negatif. Kemudian, jika anda tidak bisa menahan emosi, anda akan ikutan marah, dan mungkin anda akan meninggalkan anak anda sendirian.</p>
<p>Jangan lakukan itu ! Anak anda akan merasa bahwa anda telah mengabaikannya, dan semakin membuat anak merasa ketakutan dengan apa yag terjadi.</p>
<p>Anak akan merasa lebih tenang jika anda tetap berada di dekatnya. Jika memungkinkan, gendong atau peluk anak anda sehingga dia akan lebih cepat menenangkan diri.</p>
<p>2. Anda yang tetap memegang kendali</p>
<p>Jangan mengikuti permintaan anak yang tidak realistik atau tidak bisa anda terima hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Hal ini sering terjadi di tempat-tempat umum seperti mall, yang mana pada saat anak minta sesuatu anda tidak mengijinkannya, tetapi begitu anak mulai meledak emosinya anda akan mengabulkannya karena malu dengan lingkungan.</p>
<p>Jadi, jika memang anak meminta sesuatu yang diluar toleransi, kita harus tegas mengatakan &#8221;TIDAK&#8221;. Jika anak menjadi marah besar dan mulai memukul ataupun tindakan lain yang membahayakan, bawalah dia ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Katakan bahwa dia dibawa ke tempat tersebut karena tindakannya yang membahayakan. Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.</p>
<p>Memang, pada saat membaca tulisan ini kita bisa mengerti, tapi begitu mengalaminya langsung kemungkinan besar kita lupa dengan apa yang seharusnya kita lakukan.</p>
<p>Jadi bagaimana ?</p>
<p>Ketika anak anda mulai meledak emosinya, katakan pada diri anda sendiri, &#8221;Ini kejadian yang wajar. Saya tahu cara menghadapinya !&#8221;. Kemudian ingatlah tulisan ini.. <img src='http://balitacerdas.com/new/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selain hal di atas, masih ada beberapa hal PENTING lagi yang HARUS anda lakukan supaya anak anda mengerti dan memahami apa yang sudah terjadi. Juga, tindakan anda untuk mencegah terjadinya ledakan kemarahan yang terlalu sering.</p>
<p>Apa saja itu ?</p>
<p>Tunggu di newsletter edisi berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/02/mengatasi-ledakan-emosi-anak-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Mengatasi Anak Susah Makan</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/02/kiat-mengatasi-anak-susah-makan/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/02/kiat-mengatasi-anak-susah-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 09:41:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/01/28/kiat-mengatasi-anak-susah-makan/</guid>
		<description><![CDATA[Balita Anda susah makan? Jangan emosi. Berpikirlah dengan tenang dan aturlah strategi. Berikut dr Soeroyo Machfudz SpA(K) MPH dari Yogyakarta memberikan beberapa kiat yang bisa dimanfaatkan: 1. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja. 2. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Balita Anda susah makan? Jangan emosi. Berpikirlah dengan tenang dan aturlah strategi. Berikut dr Soeroyo Machfudz SpA(K) MPH dari Yogyakarta memberikan beberapa kiat yang bisa dimanfaatkan:</p>
<p>1. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja.<span id="more-23"></span><br />
2. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya, dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan itu 6 bulan sampai 2 tahun. &#8221;Asal usia itu terlewati dengan bagus, Insya Allah ke depannya tidak ada masalah.&#8221;, tutur Soeroyo.</p>
<p>3. Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. Jangan yang lain.</p>
<p>4. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? Soeroyo menyarankan sebaiknya anak &#8216;dilaparkan&#8217; dulu. &#8221;Tetapi, kita siapkan makanan yang sudah kita programkan, nanti berangsur-angsur dia akan mau, tetapi memang perlu telaten, disiplin.&#8221;,<br />
jelas dia.</p>
<p>5. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau lihat televisi bersama-sama, tidak mau jalan-jalan lagi.</p>
<p>6. Pada anak berusia setelah empat bulan-enam bulan, baik diberi bubur instan asalkan anak tak alergi susu. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi.</p>
<p>7. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.</p>
<p>8. Pada kasus anak yang mengalami gangguan psikis yang manifestasinya pada lambung dengan muntah bisa teratasi kira-kira setelah tiga tahun. Tetapi, kasus seperti itu jarang dan tidak menjadi masalah asal kebutuhan gizi, kalori, lemak, proteinnya tercukupi.</p>
<p>(sumber: republika.co.id)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/02/kiat-mengatasi-anak-susah-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ajari Anak Jangan Sambil Emosi Dong !</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/01/ajari-anak-jangan-sambil-emosi-dong/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/01/ajari-anak-jangan-sambil-emosi-dong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 15:54:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/01/16/ajari-anak-jangan-sambil-emosi-dong/</guid>
		<description><![CDATA[Bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak &#8212; yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia &#8212; sebaiknya jangan dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang. Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak &#8212; yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia &#8212; sebaiknya jangan dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang.</p>
<p>Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orang tua.<span id="more-26"></span><br />
Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.</p>
<p>Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orang tua, semakin sering pula mereka melakukan &#8216;tindakan disiplin&#8217; tersebut.</p>
<p>Dari survei itu, 90% mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. Dan 75% di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak. Seperempat orang tua menyumpahi atau memaki anaknya, dan sekitar 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak.</p>
<p>Menurut Straus, tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung kelihatan dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa.</p>
<p>Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.</p>
<p>Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Padahal kalau secara psikologis, kelakukan anak yang salah seharusnya diperbaiki, bukan dibentak-bentak dan dimarahi.</p>
<p>Kalau mengajari anak, sebaiknya emosi orang tua dijagalah !</p>
<p>(sumber : satumed.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/01/ajari-anak-jangan-sambil-emosi-dong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Anda Agresif?</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/01/anak-anda-agresif/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/01/anak-anda-agresif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 14:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/01/16/anak-anda-agresif/</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda mempunyai buah hati berusia 2 s.d. 3 tahun, anda mungkin sering dibikin pusing karena anak anda agresif, suka memukul, menggigit atau jenis kekerasan yang lain. Anda mungkin sedikit shock jika saya katakan bahwa perilaku agresif anak anda itu adalah perilaku NORMAL dalam perkembangan anak. Mengapa ? Usia 2 s.d. 3 tahunan bisa dikatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda mempunyai buah hati berusia 2 s.d. 3 tahun, anda mungkin sering dibikin pusing karena anak anda agresif, suka memukul, menggigit atau jenis kekerasan yang lain.</p>
<p>Anda mungkin sedikit shock jika saya katakan bahwa perilaku agresif anak anda itu adalah perilaku NORMAL dalam perkembangan anak.<span id="more-39"></span><br />
Mengapa ?</p>
<p>Usia 2 s.d. 3 tahunan bisa dikatakan sebagai usia transisi awal pada perkembangan anak, dimana anak sedang mengalami keinginan yang sangat besar untuk menjadi mandiri.</p>
<p>Dilain pihak, kemampuan bahasa anak masih belum mencapai tahap yang cukup untuk bisa berkomunikasi dengan sempurna.</p>
<p>Gap terhadap kedua kemampuan yang sedang berkembang ini akan &#8216;dilepaskan&#8217; oleh anak dalam bentuk tindakan fisik seperti bertindak agresif dan sejenisnya. Memang hanya itulah cara yang paling mudah dilakukan oleh anak untuk mengungkapkan emosinya.</p>
<p>Untuk itu, sebagai orangtua kita HARUS memahami bahwa sikap agresif seperti memukul atau menggigit pada LEVEL TERTENTU adalah sangat normal, karena anak masih terfokus pada pemikiran &#8216;SAYA&#8217; atau &#8216;MILIK SAYA&#8217;.</p>
<p>Dengan mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri anak anda ini, andapun menjadi lebih tenang dan tidak perlu terlalu khawatir melihat perilaku agresif anak anda (tentunya perilaku agresif yang tidak terlalu kelewatan).</p>
<p>Jadi, jangan sampai perilaku agresif anak anda membuat anda menjadi panik, yang berakibat pada perlakuan kekerasan anda terhadap anak.</p>
<p>INGAT !<br />
Kemampuan anda untuk mengendalikan emosi/rasa marah anda merupakan LANGKAH PERTAMA yang akan menentukan apakah anda akan bisa mengendalikan anak anda atau tidak.</p>
<p>Bagaimana mungkin anda meminta anak anda tidak boleh memukul dengan cara anda memukulnya. Padahal anak seusia ini melakukan segala sesuatunya dengan cara MENIRU lingkungannya.<br />
Iya &#8216;kan&#8230; ?</p>
<p>Yang penting dan harus selalu diingat, anda harus selalu menasehati anak anda bahwa perilaku agresif tersebut tidak baik dan tidak dapat anda terima. Selain itu, anda harus membantu anak anda dengan menunjukkan cara lain untuk mengungkapkan perasaan atau emosi anak.</p>
<p>Anda setuju dengan saya tentang hal diatas ?</p>
<p>Saya tahu, anda masih memendam sebuah pertanyaan besar, yaitu :<br />
Langkah kongkret seperti apa yang bisa saya lakukan untuk menasehati ataupun menunjukkan cara pengungkapan emosi anak ?</p>
<p>Ada beberapa hal yang telah kami terapkan dengan hasil yang cukup efektif.</p>
<p>1. Peringatan Awal/Dini dan Batasan yang Jelas</p>
<p>Hhmmm&#8230;itu lagi !. Mungkin begitu komentar langsung dari anda yang telah membaca eBook 3 Tahun Pertama yang Menentukan.</p>
<p>BETUL !<br />
Dari pengalaman saya, cara inilah yang PALING EFEKTIF untuk mengendalikan dan mencegah perilaku anak sebelum dia terlanjur melakukan tindakan agresif.</p>
<p>Dengan peringatan awal ini, anak menjadi tahu dan siap secara mental terhadap apa yang akan terjadi jika dia berbuat sesuatu yang diluar batasan yang telah anda tetapkan.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Catatan :<br />
Keterangan lebih detail tentang Peringatan Awal ini dapat anda baca di eBook 3 Tahun Pertama yang Menentukan.<br />
&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Anda harus dengan JELAS dan SINGKAT menyampaikan kepada anak anda hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukannya di setiap kegiatan/permainan bersama dengan orang lain.</p>
<p>Dan yang penting, anda harus secara KONSISTEN menjalankan apa yang telah anda sampaikan kepada anak anda.</p>
<p>Misalnya, jika anak anda senang bermain mandi bola di taman bermain, sebelum anak anda mulai bermain, anda bisa mengatakan bahwa dia boleh bermain dengan teman-temannya, tetapi jika melemparkan bolanya ke anak lain, maka dia akan segera diminta berhenti.</p>
<p>Jika ternyata anak anda kelihatan agresif dengan melemparkan bola ke anak lain, maka anda harus SEGERA membawa anak anda keluar dari tempat mandi bola tersebut.</p>
<p>JANGAN ditunggu sampai dia melakukannya 2 atau 3 kali, baru anda bereaksi !</p>
<p>Anak anda perlu tahu SEGERA bahwa tindakannya tidak bisa anda terima, dan apa yang anda katakan sebelumnya memang berlaku.</p>
<p>2. Cooling-Down</p>
<p>Cooling-down disini pada dasarnya hampir sama dengan time-out yang telah dibahas di edisi beberapa bulan yang lalu.</p>
<p>Untuk contoh mandi bola diatas, begitu anak anda bersikap agresif, anda SEGERA membawa anak anda keluar dari tempat mandi bola, kemudian ajaklah dia duduk bersama anda untuk melihat anak lain bermain mandi bola. Kemudian jelaskan bahwa dia boleh bermain lagi jika dia berjanji tidak akan mengulangi tindakan agresifnya.</p>
<p>Cara ini jauh lebih efektif daripada anda berteriak-teriak atau bahkan memukul anak anda.</p>
<p>Ini merupakan sebuah time-out sekaligus cooling-down bagi anak anda. Dengan cara ini, anak anda akan menyadari bahwa tindakannya berhubungan dengan konsekuensi yang akan dihadapinya.</p>
<p>3. Mengajarkan Tindakan Alternatif</p>
<p>Setelah anak anda sudah tenang, anda bisa membicarakan secara baik-baik dengan anak anda apa yang telah membuat dia marah. TEKANKAN bahwa dia BOLEH marah, tetapi TIDAK BOLEH melampiaskannya dengan melempar, memukul ataupun menggigit.</p>
<p>Anda bisa mengajarkan alternatif lain seperti misalnya dengan berteriak, menendang bola, atau yang lain.</p>
<p>Anak saya, Rihan, lebih senang berteriak jika sedang marah. Kalau di rumah, Rihan kami belikan bola khusus bergambar power ranger yang bisa ditendang dan dipukul tapi bolanya tidak mental jauh (ada pemberatnya). Bola tersebut yang akan menjadi sasaran ungkapan kemarahannya.</p>
<p>4. Memberikan Pujian</p>
<p>Ini merupakan cara yang sangat EFEKTIF pula untuk MENCEGAH anak bertindak agresif.</p>
<p>JANGANLAH kita hanya memperhatikan perilaku anak yang tidak baik saja, tetapi HARUS memperhatikan tindakannya yang baik dan dengan tulus memberikan pujian.</p>
<p>Contohnya, jika dia sedang bermain perosotan dengan teman-temannya dan anak anda tidak mendorong temannya tetapi bisa sabar menunggu giliran, maka pujilah bahwa tindakannya itu sangat bagus.</p>
<p>Dengan begitu dia merasa mendapatkan perhatian lebih baik dengan emosi yang positif daripada merasa diperhatikan setelah berbuat kesalahan.</p>
<p>Hal ini kelihatan sepele, tetapi saya perhatikan jarang sekali orangtua yang dengan aktif dan sungguh-sungguh melakukannya.</p>
<p>Masih banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan, tetapi 4 hal diatas merupakan tindakan terpenting yang cukup efektif untuk mencegah dan mengatasi anak bertindak agresif.</p>
<p>Tetapi yang HARUS selalu diingat adalah bahwa</p>
<p>TIDAK ADA resep khusus yang 100% bisa diterapkan kepada semua anak !</p>
<p>Setiap anak mempunyai ciri khasnya masing-masing. Anda bisa mencoba cara yang telah saya lakukan, tetapi belum tentu cocok diterapkan ke anak anda.</p>
<p>Selamat Mencoba !</p>
<p>oleh : Taufan Surana (www.balitacerdas.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/01/anak-anda-agresif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pukulan vs Time-out. Manakah yang lebih efektif?</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/01/pukulan-vs-time-out-manakah-yang-lebih-efektif/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/01/pukulan-vs-time-out-manakah-yang-lebih-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 14:46:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/01/16/pukulan-vs-time-out-manakah-yang-lebih-efektif/</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya banyak muncul di media TV maupun koran di Jepang. Hampir setiap hari, ada saja berita yang memuat tentang anak yang dibawa ke rumah sakit dengan luka berat, bahkan sampai meninggal gara-gara &#8216;dihukum&#8217; oleh orangtuanya. Dari bayi yang berusia beberapa bulan sampai anak SD harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya banyak muncul di media TV maupun koran di Jepang. Hampir setiap hari, ada saja berita yang memuat tentang anak yang dibawa ke rumah sakit dengan luka berat, bahkan sampai meninggal gara-gara &#8216;dihukum&#8217; oleh orangtuanya. Dari bayi yang berusia beberapa bulan sampai anak SD harus mengalami &#8216;hukuman&#8217; dari orangtuanya.</p>
<p>Bayangkan, ada seorang bayi berusia 7 bulan meninggal karena tidak diberi makan oleh orangtuanya selama beberapa hari.<span id="more-40"></span><br />
Uniknya, pada saat ditangkap polisi dan diinterogasi, alasan para orangtua tersebut semua SAMA, yaitu memberikan hukuman karena anaknya tidak mau mengikuti apa yang dikatakan orangtua. Atau menurut mereka, MENGAJARKAN DISIPLIN kepada anaknya.</p>
<p>Di negara maju seperti Jepang saja (dimana telah diterapkan Undang-Undang Perlindungan Anak) masih banyak kejadian penyiksaan terhadap anak. Bagaimana dengan kita di Indonesia ? &#8230;atau, dengan lingkungan kecil di sekitar kita sendiri ?</p>
<p>Dari hal-hal diatas tersebut, kita semua semakin menyadari bahwa masih banyak orangtua yang salah dalam menerapkan atau mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orangtua tersebut tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya.</p>
<p>Jika melihat hal ini, saya begitu salut dan hormat kepada anda yang sangat peduli terhadap perkembangan buah hati anda.</p>
<p>Saya dan anda tentunya sudah menyadari sekali bahwa betapa sulitnya menjadi orangtua yang baik itu. Hal yang paling sulit adalah bagaimana kita sebagai orangtua bisa mengendalikan emosi kita dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori kita sudah banyak belajar melalui buku-buku ataupun seminar tentang perkembangan anak, tetapi begitu menghadapi anak kita yang &#8216;nakal&#8217;, hilanglah semua teori itu dari kepala kita.</p>
<p>Apakah anda pernah mengalaminya ? Saya masih mengalaminya, apalagi dengan semakin meningkatnya usia anak.</p>
<p>Ketidakmampuan kita mengendalikan emosi ini akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak kita.</p>
<p>Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak selalu menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman fisik dalam melakukannya.</p>
<p>Memang, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Jika anda sudah membaca eBook kami 3 Tahun Pertama yang Menentukan, tentunya tahu bagaimana pengalaman saya terhadap anak saya dalam hal hukuman fisik ini. Hukuman fisik justru bisa menjadi &#8216;permainan menarik&#8217; bagi anak, dan tidak mampu mendisiplinkan anak.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa anak balita masih belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang &#8216;nakal&#8217; (menurut orangtua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak HANYA merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa kok dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan &#8216;nakal&#8217;-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri !</p>
<p>Jadi, JANGAN PERNAH MEMUKUL !!!</p>
<p>Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, KECUALI hanya memuaskan emosi orangtua. Anda setuju ?</p>
<p>Dalam menghadapi sikap anak yang &#8216;nakal&#8217; dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan TIME-OUT kepada anak. Time-out disini sebenarnya kata halus untuk sebuah hukuman tetapi BUKAN hukuman fisik.</p>
<p>Time-out ini biasanya dalam bentuk menyuruh anak untuk duduk di sebuah kursi atau masuk ruangan tertentu dalam waktu tertentu. Panjang waktu yang paling efektif adalah disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, waktu time-out untuk anak usia 2 tahun adalah 2 menit, untuk anak usia 3 tahun adalah 3 menit.</p>
<p>Jangan terlalu lama !</p>
<p>Time-out ini sangat efektif untuk menghukum anak yang suka memukul, merusak barang atau berkelakuan di luar batas sopan santun yang telah ditentukan oleh orangtua.</p>
<p>Setelah waktu time-out selesai, orangtua harus menjelaskan kenapa dia dikenai time-out, dan kemudian menasehati tentang perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh anak.</p>
<p>Menasehati pada saat anak sudah tenang ini akan memberikan hasil yang sangat efektif, dibandingkan dengan nasehat pada saat setelah anak dipukul, apalagi pada saat anak menangis. Jadi, untuk menasehati anak yang efektif itu memang perlu waktu yang tepat, yaitu pada saat emosi anak sedang tenang. Menasehati (memarahi?) anak sambil berteriak, ditambah lagi pada saat emosi anak tinggi (mis. sedang menangis), sama sekali TIDAK akan membuahkan hasil apapun !</p>
<p>Kembali lagi ke masalah time-out, yang perlu diingat adalah bahwa time-out menjadi tidak efektif bila dilakukan terlalu sering atau untuk kelakuan anak seperti misalnya hanya karena anak tidak mau membereskan mainannya, dan sejenisnya.</p>
<p>Untuk mengajarkan disiplin tentang kelakuan anak seperti hal diatas, atau mencegah ledakan kemarahan (temper tantrum) dan sejenisnya, pemberian &#8216;signal awal&#8217; kepada anak merupakan cara yang paling efektif dari berbagai cara yang ada.</p>
<p>Hal inilah yang selalu kami terapkan kepada anak kami. (Untuk detail masalah &#8216;signal awal&#8217; dan permasalahan disiplin ini dapat anda baca lebih lanjut di eBook 3 Tahun Pertama yang Menentukan)</p>
<p>Untuk orangtua yang terlanjur mempunyai kebiasaan memukul, cara yang cukup efektif untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini adalah dengan sesering mungkin membaca tulisan tentang tidak baiknya memukul anak itu. Saya sendiri seminggu sekali selalu membaca artikel yang sama tentang hal ini tanpa bosan-bosannya. Untuk yang tidak punya artikel khusus, mungkin artikel ini bisa dimanfaatkan <img src='http://balitacerdas.com/new/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dengan membaca artikel seperti itu, kita akan diingatkan terus akan keburukan memberikan hukuman fisik. Letakkan saja buku/artikel tentang hal ini di atas meja kerja anda, dan pada saat waklu luang, lihat-lihat sebentar sambil refreshing <img src='http://balitacerdas.com/new/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Mudah &#8216;kan ?</p>
<p>Terakhir kali, Mari kita galakkan upaya untuk selalu menghindari kekerasan di dalam rumah tangga, demi masa depan buah hati kita tercinta dan masa depan bangsa Indonesia !</p>
<p>Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa remaja yang nakal dan sering mengganggu orang lain ternyata sebagian besar mempunyai latar belakang dimana pada masa kecilnya mereka sering mendapatkan hukuman fisik dari orangtuanya.</p>
<p>oleh: Taufan Surana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/01/pukulan-vs-time-out-manakah-yang-lebih-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

