<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BalitaCerdas &#187; Orang Tua</title>
	<atom:link href="http://balitacerdas.com/new/category/orang-tua/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://balitacerdas.com/new</link>
	<description>Info Anak Balita Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2009 16:50:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Jika Ibu Harus Kembali Bekerja</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 02:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2007/03/05/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/</guid>
		<description><![CDATA[Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan berkecamuk. Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar. Namun di lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan berkecamuk.</p>
<p>Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar.<span id="more-12"></span></p>
<p>Namun di lain sisi, perasaan ingin tetap bersama si kecil untuk memastikan ia mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian sering mengganggu pikiran. Belum lagi rasa bersalah harus meninggalkan si kecil di rumah.</p>
<p>Mengatur agar keduanya berjalan baik memang akan menjadi tantangan bagi ibu bekerja. Namun, dengan perencanaan, komitmen dan niat yang kuat, Anda pasti bisa mengatasinya.</p>
<p> </p>
<p><strong>Sebelum kembali bekerja&#8230;..</strong></p>
<p><strong>a. Cari pengasuh yang dapat diandalkan.</strong></p>
<p>Inilah keputusan penting dan menjadi prioritas utama bagi ibu yang akan kembali bekerja, karena dapat membantu memberikan rasa tenang saat meninggalkan si kecil di rumah. Pilihannya bisa beragam, mulai sang nenek, saudara, baby sitter, atau menyerahkan pengasuhan pada lembaga penitipan anak terpercaya.</p>
<p><strong>b. Bicaralah dengan atasan Anda mengenai tugas dan jadwal Anda saat kembali bekerja.</strong></p>
<p>Jadi saat bekerja Anda pun sudah tahu persis apa yang diharapkan oleh atasan.</p>
<p> </p>
<p><strong>Saat waktu bekerja tiba&#8230; </strong></p>
<p><strong>a. Be organized!</strong></p>
<p>Bekerja dan mengasuh anak menuntut Anda untuk juga ahli dalam manajemen waktu. Organisasikan semua tugas dan tanggung jawab Anda dengan baik, agar tak ada satu hal pun yang tertinggal.</p>
<p><strong>b. Jaga kedekatan dengan si kecil</strong></p>
<p>Walaupun harus berada jauh di luar rumah, pastikan Anda tetap berhubungan dengannya, misalnya dengan menelepon si kecil untuk mengetahui apa yang sedang dia lakukan. Menurut Alan Greene, MD, spesialis anak dari Lucile Packard Childrens Hospital, California, bayi sudah dapat mengenali Anda sejak dalam kandungan dengan semua inderanya. Karena itu, baju, foto dan rekaman suara Anda yang sedang bercerita juga dapat menjadi alat yang efektif untuk membuat si kecil merasa dekat.</p>
<p><strong>c. Antisipasi bila si kecil sakit</strong></p>
<p>Tanyakan pada atasan Anda mengenai kemungkinan Anda bisa tidak masuk saat si kecil sakit. Jika tidak bisa, mintalah suami atau keluarga dekat lain untuk menggantikan Anda menjaganya.</p>
<p><strong>d. Ada kalanya rasa sedih dan bersalah begitu mengganggu pikiran</strong></p>
<p>Karena Anda tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan si kecil, cobalah untuk membicarakannya dengan pasangan atau ibu lain yang menghadapi situasi serupa. Tetapi jika perasaan ini semakin menjadi-jadi, segera konsultasikan dengan ahli untuk mengatasinya.</p>
<p><strong>e. Jangan paksa untuk melakukan semua hal sendiri</strong></p>
<p>Buatlah sistem yang membantu Anda melakukan beberapa tugas dengan bantuan suami, anggota keluarga lain,atau pun pembantu.</p>
<p><strong>f. Luangkan waktu untuk diri sendiri</strong></p>
<p>Walaupun sulit, Anda juga perlu waktu untuk diri sendiri. Saat si kecil tertidur atau dijaga oleh pasangan, manfaatkanlah waktu tersebut untuk sekedar berlama-lama di kamar mandi, membaca buku atau mendengarkan musik kesayangan dan mengembalikan kesegaran pikiran atau beristirahat. Karena bagaimanapun, jika pikiran Anda tidak dipenuhi stres, Anda pun bisa menikmati waktu bersama di kecil dengan lebih baik.</p>
<p><strong>g. Tetaplah memberikan ASI</strong></p>
<p>Tak ada yang dapat menyangkal kehebatan manfaat ASI bagi si kecil. Karena itu, berusahalah untuk tetap memberikan ASI padanya walaupun Anda sudah bekerja. Walau tidak bisa sesering sebelumnya, cobalah untuk menyusui si kecil waktu pagi atau malam hari. Bonusnya, Anda dan si kecil dapat merasakan kedekatan yang terjalin selama<br />
proses menyusui. Di luar itu, Anda dapat memompa ASI agar si kecil tetap bisa meminumnya saat Anda tidak berada di rumah.</p>
<p><strong>h. Jaga kesehatan dan rajin berolahraga</strong></p>
<p>Olahraga membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Ini dapat mengurangi stres dan rasa penat tubuh. Pastikan Anda memiliki pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan seimbang dan bergizi. Kondisi kesehatan menjadi syarat mutlak bagi ibu berperan ganda. Jika Anda sakit-sakitan bisa dipastikan semuanya akan terbengkalai. Urusan anak dan rumah tak bisa dilakukan dengan baik, Anda pun akan sering minta izin. Situasi bisa menjadi rumit dan mempengaruhi penilaian di kantor.</p>
<p>sumber : sahabat nestle</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan bagi Ibu dan Orang tua</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 15:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/1999/11/30/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ahli pendidikan bertanya pada tiga orang ibu yang ditunjuk dari para peserta sebuah pelatihan. Ahli pendidikan (AP) : &#8221;Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suami Anda, tiba-tiba telepon berdering, anak Anda menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suami Anda berkomentar : &#8216;Kapan kamu akan belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ahli pendidikan bertanya pada tiga orang ibu yang ditunjuk dari para peserta sebuah pelatihan.</p>
<p><strong>Ahli pendidikan (AP) :</strong> &#8221;Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suami Anda, tiba-tiba telepon berdering, anak Anda menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suami Anda berkomentar : &#8216;Kapan kamu akan belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?&#8217; Kira-kira, bagaimana reaksi Anda?&#8221;<span id="more-15"></span><br />
<strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Langsung saya lemparkan roti itu ke mukanya!&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya akan katakan padanya, &#8216;Bangun dan bakar sendiri rotinya!&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Saya rasa saya akan menangis.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Lalu bagaimana perasaan Anda terhadap suami Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Semua :</strong> &#8221;Marah, benci, dan merasa dianiaya.&#8221;</p>
<p><strong>AP : </strong>&#8221;Mudahkah bagi Anda untuk menyiapkan roti bakar lagi pagi itu?&#8221;</p>
<p><strong>Semua : </strong>&#8221;Tentu saja tidak.&#8221;</p>
<p><strong>AP : </strong>&#8221;Dan jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda untuk membereskan rumah dan belanja kebutuhan sehari-hari dengan lapang dada?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Tidak. Saya akan merasa sumpek sekali sepanjang hari.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya tidak akan membeli apapun untuk keperluan rumah hari itu.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Katakanlah bahwa roti itu memang hangus. Tetapi suami Anda mengatakan kepada Anda, &#8216;Tampaknya pagi ini kamu lelah ya&#8230; telepon berdering, anak menangis, dan sekarang roti hangus&#8217;, kira-kira apa reaksi Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Saya tidak percaya bahwa yang berbicara itu adalah suami saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya akan merasa bahagia.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Saya akan merasa senang, dan saya fikir,saya akan memeluknya.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Mengapa Anda gembira? Bukankah anak tetap menangis, telepon berdering, dan roti sudah hangus..?&#8221;</p>
<p><strong>Semua :</strong> &#8221;Saya tidak akan peduli dengan semua itu.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Lalu apa yang berbeda kali ini?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Saya merasa suami saya baik sekali, karena tidak menyalahkan saya, melainkan memahami perasaan saya. Dia berpihak pada saya, bukan memusuhi saya.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 : </strong>&#8221;Saya akan melaksanakan tugas-tugas saya dengan senang hati.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Sekarang, mari kita bicara tentang suami tipe ketiga. Setelah roti itu hangus, ia memandang istrinya sambil mengatakan, &#8216;Nih, saya ajari kamu cara membakar roti!&#8221;&#8217;</p>
<p><strong>Semua :</strong> &#8221;Tidak. Suami macam itu lebih buruk lagi dari yang pertama, sebab ia menganggap saya dungu.&#8221;</p>
<p>Saat itu, ahli pendidikan itu mengatakan : &#8221;Bagaimana kalau apa yang suami Anda lakukan kepada Anda itu, Anda lakukan kepada anak Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Sekarang saya mengerti tujuan Anda membuka dialog ini. Saya memang selalu mengkritik anak saya, tanpa saya sadari. Saya selalu mengatakan, &#8216;Kamu sudah besar, sudah harus tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu salah&#8217;. Saya sekarang tahu mengapa ia marah dengan kata-kata saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya juga selalu mengatakan, &#8216;Biar saya tunjukkan padamu cara melakukan ini dan itu.&#8217; Dan sering kali anak saya marah saat mendengarnya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Saya sering mengkritik puteri saya hingga hal itu menjadi hal yang biasa bagi saya. Dan saya sering mengulang-ulang kalimat yang dulu diucapkan ibu saya kepada saya, jika memarahi saya, saat saya kecil. Dulu, saya juga sangat tidak suka mendengar ibu mengatakannya.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Kalau begitu, mari kita cari tahu yang mungkin kita pelajari dari kasus roti hangus ini. Apa yang membantu mengubah perasaan Anda dari benci menjadi senang terhadap suami Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 : </strong>&#8221;Saya yakin sebabnya adalah karena suami tidak menyalahkan saya,tetapi dia memahami perasaan saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Tanpa mencela saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Tanpa mendikte saya.&#8221;</p>
<p>Setelah sampai pada yang dituju, ahli pendidikan itu mengatakan, &#8220;Sekarang Anda semua mengerti bahwa apa yang Anda inginkan dari suami Anda, itulah yang diinginkan pula oleh anak-anak kita dari kita : PENGERTIAN dan EMPATI&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kiat Mempererat Hubungan Ayah dan Anak</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/02/kiat-mempererat-hubungan-ayah-dan-anak/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/02/kiat-mempererat-hubungan-ayah-dan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 04:58:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/11/22/kiat-mempererat-hubungan-ayah-dan-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Hasil riset dan para psikologi banyak yang menyatakan bahwa peran ayah sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak. Ikatan emosional antara ayah dan anak, ditentukan salah satunya oleh interaksi antara ayah dan anak itu sendiri. Interaksi yang baik antara anak dan ayah ini, dikatakan sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hasil riset dan para psikologi banyak yang menyatakan bahwa peran ayah sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak. Ikatan emosional antara ayah dan anak, ditentukan salah satunya oleh interaksi antara ayah dan anak itu sendiri. <strong>Interaksi yang baik antara anak dan ayah ini, dikatakan sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.</strong> <span id="more-13"></span><br />
Bagaimana seorang ayah yang sibuk bekerja di luar tetap bisa mempererat dan menjalin ikatan emosional ini? Banyak kendala yang dihadapi seorang ayah untuk meluangkan waktunya merawat anak karena kesibukan di luar. Di bawah ini adalah tips-tips bagi Anda.</p>
<h4>1. Persiapkan diri Anda sedini mungkin sejak istri Anda hamil</h4>
<p>Seorang suami sudah terlibat dalam pembuahan seorang anak, yang menjadikan istrinya mengandung. Masa kehamilan selama 9 bulan ini dapat Anda gunakan untuk mempersiapkan diri Anda sebagai seorang ayah. Berperan aktif lah Anda sebagai seorang suami sekaligus calon ayah dengan membantu kehamilan istri.</p>
<p>Mengikuti persiapan persalinan berupa senam, membaca buku bersama mengenai kehamilan, cara merawat bayi atau berbelanja bersama untuk menyambut kelahiran sang bayi. Bila memungkinkan temanilah istri Anda dalam persalinan. Melihat langsung perjuangan istri Anda, dan detik-detik terdengarnya tangisan bayi yang lahir ke dunia ini, akan menambahkan rasa sayang dan kasih Anda baik kepada istri maupun anak Anda.</p>
<h4>2. Ikut aktif merawat bayi</h4>
<p>Sedari awal menjelang kelahiran, cobalah ikut aktif merawat bayi Anda. Salah seorang peneliti menemukan bahwa para ayah yang mulai mengganti popok, memandikan, dan mengasuh bayi mereka sejak dini, akan besar kemungkinan melakukan kegiatan semacam itu pada bulan-bulan selanjutnya.</p>
<p>Kebiasaan ikut aktif sang ayah dalam merawat bayi akan terbentuk. Anda akan menemukan saat-saat indah dalam masa ini. Anda bisa memandikan, mengganti popoknya, memberikan susu botol dan meninabobokan. Untuk masa awal, adalah wajar bila terjadi kesalahan-kesalahan karena yang perlu diingat merawat bayi perlu pengalaman secara langsung, penuh coba dan memperbaiki kesalahan. So nothing to loose. Try and you&#8217;ll enjoy it.</p>
<p>Bayi Anda akan semakin merasakan kehadiran Anda, mengenali sosok wajah Anda, suara Anda dan bau ayahnya.</p>
<p>Tips bagi ibu&#8230;,</p>
<p>biarkanlah suami Anda ikut merawat dan mengasuh dengan<br />
gayanya sendiri, Anda bisa memberikan dukungan dan dorongan agar suami akan semakin perrcaya diri dalam merawat bayinya. Memberikan masukan dan membetulkan cara merawat akan menambah smooth.</p>
<p>Bagi keluarga yang mendapatkan pertolongan dari nenek atau saudara lainnya, usahakan lah jangan sampai menganggu porsi sang ayah dalam ikut aktif merawat bayi. Give him the space.</p>
<h4>3. Bermain bersama</h4>
<p>Ketika bayi Anda makin beranjak usia, lewatkan waktu bersama untuk bermain, membaca buku atau melakukan aktivitas yang menyenangkan bagi bayi Anda yang mulai merangkak, mulai belajar berbicara atau berjalan. Ciptakanlah permainan-permainan yang menggairahkan, yang digemari seperti kuda-kudaan, pesawat terbang atau sembunyi sembunyian.</p>
<p>Sesuaikanlah dengan perkembangan usia anak Anda.</p>
<p>Membaca, mewarnai atau melakukan keterampilan menggunting, menempel secara bersama-sama.</p>
<h4>4. Terlibat dalam kehidupan sosial anak Anda</h4>
<p>Ketika anak Anda mulai beranjak usia sekolah, dia akan memulai kehidupan sosial yang baru. Usahakan terlibat dalam kehidupan sosial anak Anda, dengan mengenali misalnya nama teman-temannya, dengan siapa dia bergaul, aktivitas yang dia lakukan bersama temannya atau nama guru TK/SD nya.</p>
<h4>5. Jadilah pendengar yang baik</h4>
<p>Kesibukan kerja terkadang membuat Anda mengabaikan cerita-cerita anak Anda. Berikan keseimbangan antar kerja dan keluarga, atau usahakan jangan membawa pekerjaan ke rumah. Luangkan waktu 5 menit saja untuk<br />
mendengarkan celotehannya dan mengerti betul isi cerita itu.</p>
<p><strong>Jangan hanya &#8216;meng-iyakan&#8217; agar cerita anak itu lekas selesai atau mengatakan nanti ayah sedang sibuk.</strong></p>
<p>Sebersit wajah kecewa akan nampak dan membuat anak akan semakin malas untuk bercerita pada anda. Akhirnya<br />
kebiasaan bercerita dan sharing dari anak akan menghilang. Jadi jangan Anda mengeluh bila anak Anda tidak terbuka suatu hari nanti, karena kebiasaan ini dimulai dari respon Anda sebagai pendengar yang baik atau tidak.</p>
<p>Dengan menjadi pendengar yang baik, disamping keterbukaan, Anda akan menjadikan anak Anda dapat mengekspresikan dan cakap dalam mengungkapkan sesuatu.</p>
<h4>6. Komunikasi yang baik</h4>
<p>Bila Anda dinas luar atau tinggal terpisah berjauhan dengan anak Anda, usahakan lah tetap menjalin komunikasi dengan baik, melalui telepon atau chatting internet. Tunjukkan perhatian Anda, rasa sayang Anda melalui telepon, sms atau melalui surat.</p>
<p>Juga Anda bisa menggunakan moment ini sebagai pendewasaan bagi anak Anda. Misalnya dengan mengatakan Ayah akan pergi selama beberapa hari, ayah minta tolong yah agar Arif menjadi anak baik dan menjaga ibu.</p>
<p>Anak akan merasakan dia dipercaya dan bertanggung jawab atas tugas-tugas tertentu.</p>
<h4>7. Percayai anak Anda dan berikan kebebasan</h4>
<p>Jadilah seorang ayah yang memberikan kebebasan dan dapat mempercayai anak Anda. Kepercayaan Anda akan menjadikan dia tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan mandiri. Janganlah mendikte dia untuk melakukan<br />
A. Tapi cobalah memberikan dia pilihan, misalnya Arif mau A atau mau B?  Dan tetaplah membuka kemungkinan pilihan lain selama pilihan itu tidak bertentangan dengan hal prinsip.</p>
<p>Dari masalah yang sepele mulai dari pilihan memakai kaos kaki, baju atau memilih sekolah. Dia akan merasa dihargai dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.</p>
<p>Sebagai seorang ayah, Anda bisa membimbing dan memantaunya.</p>
<h4>8. Penuhilah sesuai kebutuhannya</h4>
<p>Bertambah dewasa seorang anak, akan semakin bertambah kebutuhannya, semakin beragam dan variatif. Jangan Anda paksakan dan menganggap dia masih kecil sehingga memperlakukan sebagai seorang bayi.</p>
<p><strong>Mereka membutuhkan perlakuan sesuai dengan usianya.</strong></p>
<p>Kebutuhan seorang bayi tentunya berbeda dengan kebutuhan seorang anak usia sekolah, juga berbeda kebutuhan anak menjelang remaja dengan kebutuhan anak usia sekolah dan seterusnya. Cobalah Anda memahami kebutuhan anak Anda, dan tidak menganggapnya sebagai your sweety selalu.</p>
<p>Demikianlah sedikit gambaran mengenai kiat-kiat agar Anda bisa semakin aktif berinteraksi dengan anak Anda. Jangan lewatkan masa-masa pertumbuhan itu, you won&#8217;t get it back if you miss it.</p>
<p>Selamat menikmati menjadi ayah yang baik, bukan sembarang ayah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/02/kiat-mempererat-hubungan-ayah-dan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Depresi Ibu Berefek Buruk pada Anak</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/02/depresi-ibu-berefek-buruk-pada-anak/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/02/depresi-ibu-berefek-buruk-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 08:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2004/10/11/depresi-ibu-berefek-buruk-pada-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan selama 20 tahun oleh Tiffani Field, Ph. D dari Universitas of Miami Medical School, anak yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami depresi berat selama kehamilan akan memiliki kadar hormon stres tinggi, aktivitas otak yang peka terhadap depresi, menunjukkan sedikit ekspresi, dan mengalami gejala depresi lain, seperti sulit makan dan tidur. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan selama 20 tahun oleh Tiffani Field, Ph. D dari Universitas of Miami Medical School, anak yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami depresi berat selama kehamilan akan memiliki kadar hormon stres tinggi, aktivitas otak yang peka terhadap depresi, menunjukkan sedikit ekspresi, dan mengalami gejala depresi lain, seperti sulit makan dan tidur.<span id="more-14"></span></p>
<p>Depresi pada ibu yang sedang mengandung disebabkan banyak hal.</p>
<p>Pertama, adanya perubahan hormon yang menpengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga si ibu sering merasa kesal, jenuh, atau sedih.</p>
<p>Penyebab lainnya adalah, keadaan fisik yang berubah saat hamil. Menjelang usia kehamilan tertentu, ibu mengalami sulit tidur. Ini tentu menyebabkan si ibu keesokan harinya akan merasa amat letih, ada lingkaran hitan di mata, dan kulit muka menjadi kusam.</p>
<p>Adanya masalah-masalah pada kandungan seperti kandungan lemah, sering muntah pada awal kandungan, dan masalah-masalah lain juga bisa menyebabkan depresi. Ibu akan terus-menerus mengkhawatirkan keadaan anak dan ini akan membuat dia merasa tertekan.</p>
<p>Depresi dapat juga dialami stelah sang ibu melahirkan bayinya. Di Amerika Serikat, sekitar 30 persen dari ibu yang baru saja melahirkan diduga mengalami depresi pascamelahirkan.</p>
<h4>Anak Menjadi Agresif</h4>
<p>Mengapa amat penting menjaga sampai si ibu yang sedang mengandung mengalami depresi? Tiffani Field, Ph. D dari Universitas of Miami Medical School menjawab pertanyaan ini berdasarkan penelitian yang sudah ia lakukan selama 20 tahun. Ia menemukan anak yang dilahirkan oleh ibu yang mengalami depresi berat selama kehamilan akan memiliki kadar hormon stres tinggi, aktivitas otak yang peka terhadap depresi, menunjukkan sedikit ekspresi, dan mengalami gejala depresi lain, seperti sulit makan dan tidur.</p>
<p>Yang berbahaya bila gejala depresi pada bayi baru lahir tidak segera ditangani, anak berkembang menjadi anak yang tidak bahagia. Mereka sulit belajar berjalan, berta badan kurang, dan tidak responsif terhadap orang lain. Bila keadaan ini tetap tidak tertanggulangi, anak akan tumbuh menjadi balita yang depresi. Saat mulai sekolah mereka mengalami masalah tingkah laku, seperti agresif dan mudah stres.</p>
<h4>Tindakan Pertolongan</h4>
<p>Ibu dan anak mengalami depresi harus mendapatkan pertolongan para profesional. Berkonsultasilah dengan dokter anak dan psikolog anak. Makin cepat pertolongan diberikan makin besar kemungkinan anak akan tumbuh normal. Terapi lainnya, seperti pijat, juga terbukti baik untuk mengatasi depresi, baik bagi anak maupun ibu. Tapi, ini pun harus dengan pengawasan dari dokter.</p>
<p>Yang penting, upaya penyembuhan ini harus dilakukan pada ibu dan bayi. Jangan hanya bayi yang diterapi, sementara ibu dibiarkan makin terpuruk dalam depresi atau sebaliknya. Ibu dan bayi harus bekerja sama untuk mengatasi depresinya. Ayah juga harus berperan aktif dalam membantu penyembuhan orang-orang terdekat ini.</p>
<p>Itulah sebabnya, saat ini, peran suami terhadap ibu yang sedang mengandung dan setelah melahirkan amat besar. Ibu hamil harus mendapatkan dukungan yang sebesar-besarnya dari suami. Dukungan suami ini bisa ditunjukkan dengan berbagai cara, seperti memberi ketenangan kepada istri, membantu sebagian pekerjaan istri atau bahkan sekadar memberi pijatan ringan bila istri merasa pegal. Diharapkan, dengan dukungan total dari suami, istri dapat melewati masa keamilannya dengan perasaan senang dan jauh dari depresi.</p>
<p>Pada saat bayi yang ditunggu sudah lahir, peran suami yang sekarang telah menjadi seorang ayah tentu diharapkan menjadi semakin aktif. Ayah dan ibu harus berbagi tugas dalam mengasuh dan merawat si kecil. Jangan sampai semua perawatan bayi diserahkan ke ibu. Ini bisa membuat ibu depresi karena fisiknya belum pulih setelah melahirkan ditambah kelelahan baru merawat bayi.</p>
<p>sumber: Majalah Lisa &#8211; Nomor 36/Tahun II/10 &#8211; 16 September 2001, halaman 33</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/02/depresi-ibu-berefek-buruk-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu Bekerja &amp; Dampaknya pada Perkembangan Anak</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/01/ibu-bekerja-dampaknya-pada-perkembangan-anak/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/01/ibu-bekerja-dampaknya-pada-perkembangan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2008 02:22:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2003/12/22/ibu-bekerja-dampaknya-pada-perkembangan-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga&#8230;akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibupun ikut bekerja. Ibu yang ikut bekerja mempunyai banyak pilihan. Ada ibu yang memilih bekerja di rumah dan ada ibu yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu dampak krisis moneter adalah bertambahnya kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi karena semakin mahalnya harga-harga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satu caranya adalah menambah penghasilan keluarga&#8230;akhirnya kalau biasanya hanya ayah yang bekerja sekarang ibupun ikut bekerja. <span id="more-16"></span><br />
Ibu yang ikut bekerja mempunyai banyak pilihan. Ada ibu yang memilih bekerja di rumah dan ada ibu yang memilih bekerja di luar rumah. Jika ibu memilih bekerja di luar rumah maka ibu harus pandai-pandai mengatur waktu untuk keluarga karena pada hakekatnya seorang ibu mempunyai tugas utama yaitu mengatur urusan rumah tangga termasuk mengawasi, mengatur dan membimbing anak-anak. Apalagi jika ibu mempunyai anak yang masih kecil atau balita maka seorang ibu harus tahu betul bagaimana mengatur waktu dengan bijaksana. Seorang anak usia 0-5 tahun masih sangat tergantung dengan ibunya. Karena anak usia 0-5 tahun belum dapat melakukan tugas pribadinya seperti makan, mandi, belajar, dan sebagainya. Mereka masih perlu bantuan dari orang tua dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Bila anak itu dititipkan pada seorang pembantu maka orang tua atau khususnya ibu harus tahu betul bahwa pembantu tersebut mampu membimbing dan membantu anak-anak dalam melakukan pekerjaannya. Kalau pembantu ternyata tidak dapat melakukannya maka anak-anak yang akan menderita kerugian.</p>
<p>Pembentukan kepribadian seorang anak dimulai ketika anak berusia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya tentang hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Anak yang berada di lingkungan orang-orang yang sering marah, memukul, dan melakukan tindakan kekerasan lainnya, anak tersebut juga akan bertumbuh menjadi pribadi yang keras. Untuk itu ibu atau orang tua harus bijaksana dalam menitipkan anak sewaktu orang tua bekerja.</p>
<p>Kadang-kadang hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu anak masih kecil akan mengakibatkan dampak yang negatif bagi pertumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya. Seperti kasus-kasus kenakalan remaja, keterlibatan anak dalam dunia narkoba, dan sebagainya bisa jadi karena pembentukan kepribadian di masa kanak-kanak yang tidak terbentuk dengan baik.</p>
<p>Untuk itu maka ibu yang bekerja di luar rumah harus bijaksana mengatur waktu. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga memang sangat mulia, tetapi tetap harus diingat bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengatur rumah tangga. Ibu yang harus berangkat bekerja pagi hari dan pulang pada sore hari tetap harus meluangkan waktu untuk berkomunikasi, bercanda, memeriksa tugas-tugas sekolahnya meskipun ibu sangat capek setelah seharian bekerja di luar rumah. Tetapi pengorbanan tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan jika melihat anak-anaknya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan stabil.</p>
<p>Sedangkan untuk ibu yang bekerja di dalam rumahpun tetap harus mampu mengatur waktu dengan bijaksana.</p>
<p>Tetapi tugas tersebut tentunya bukan hanya tugas ibu saja tetapi ayah juga harus ikut menolong ibu untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik.</p>
<p>oleh: M. Ninik Handayani, S.Psi.</p>
<p>(sumber: iqeq.web.id)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/01/ibu-bekerja-dampaknya-pada-perkembangan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

