<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>BalitaCerdas &#187; admin</title>
	<atom:link href="http://balitacerdas.com/new/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://balitacerdas.com/new</link>
	<description>Info Anak Balita Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Oct 2009 16:50:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mengapa anak-anak saya selalu bertengkar?</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/04/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/04/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 09:50:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2005/08/09/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore, dua orang saudara kandung, Ana (6 tahun) dan Ani (4,5 tahun) sedang bertengkar memperebutkan sebuah boneka. Ani (sambil menangis) : &#8221;Mama..!! aku mau boneka yang lagi dipegang kakak&#8230;, aku ingin sekali main dengan boneka itu&#8230;!! (sambil menangis dengan keras)&#8221; Ana : &#8221;Mama..!!! adek ingin ambil bonekaku&#8230; aku ngga&#8217; mau nanti malah rusak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu sore, dua orang saudara kandung, Ana (6 tahun) dan Ani (4,5 tahun) sedang bertengkar memperebutkan sebuah boneka.</p>
<p>Ani (sambil menangis) : &#8221;Mama..!! aku mau boneka yang lagi dipegang kakak&#8230;, aku ingin sekali main dengan boneka itu&#8230;!! (sambil menangis dengan keras)&#8221;<span id="more-19"></span></p>
<p>Ana : &#8221;Mama..!!! adek ingin ambil bonekaku&#8230; aku ngga&#8217; mau nanti malah rusak ma..</p>
<p>Mama (lagi menghitung uang belanja) : &#8221;Adek.. mainan mu kan banyak, main dengan boneka yang lain saja ya.., jangan nangis.. mama lagi pusing mikirin uang belanja yang pas-pasan ini..!!! (dengan suara keras).&#8221;</p>
<p>Ani : &#8221;Adek cuma ingin boneka yang sekarang dipegang kakak, adek ngga mau main boneka adek, karena semua sudah jelek-jelek.. dan rusak..!! (sambil tetap menangis)&#8221;</p>
<p>Mama (dengan nada yang kesal) : &#8221;Aduh..!! kalian kok bertengkar terus.. diam! diam!!! mama lagi pusing.., kakak..!! berikan boneka mu sama adek, masa dipinjam sebentar aja sama adek tidak boleh, sebagai kakak itu harus mengalah.. ayo berikan sekarang..!! (dengan suara yang keras dan mata yang melotot)&#8221;</p>
<p>Ilustrasi diatas, paling tidak cukup membawa kita mengingat kebelakang, adakah peristiwa diatas juga terjadi terhadap kita. Sebagai orang tua, kita merasa bahagia bila memiliki anak lebih dari 1 sebagaimana kata pepatah &#8216;banyak anak banyak rezeki&#8217;, namun kebahagiaan itu sering kali terusik oleh pertengkaran anak-anak yang tentu saja dapat menimbulkan stres tersendiri.</p>
<p>Kenapa sih mereka selalu bertengkar..?</p>
<p>Apakah semua kakak adik itu selalu bertengkar..?</p>
<p>Sibling Rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan diantara mereka. Hal ini tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling rivalry akan semakin besar apabila mereka berjenis kelamin sama dan jarak usia keduanya cukup dekat.</p>
<p>Apa penyebab terjadinya Sibling rivalry ?</p>
<p>1. Anak-anak sangat bergantung akan cinta dan kasih sayang orang tuanya.</p>
<p>Mereka merasa terancam apabila orang tua membaginya kepada orang lain. Hal ini sering terlihat saat ibu hamil, anak mulai menunjukan protesnya melalui perilaku yang &#8216;sulit&#8217;.</p>
<p>2. Kecenderungan terhadap satu anak.</p>
<p>Hal ini dapat menimbulkan perasaan kesal dan cemburu bagi anak yang lain dan anak yang lain akan merasa tersisihkan.</p>
<p>3. Bila seorang anak menyadari kekurangannya dari saudaranya yang lain.</p>
<p>Terlebih apabila si anak berjenis kelamin sama dan jarak usia yang berdekatan, maka diam-diam anak akan mengembangkan rasa benci terhadap saudaranya tersebut. Biasanya ketika orang tua sering memuji kemampuan anak yang lain dihadapan anak yang memiliki kekurangan, tentu saja akan membuat anak yang Ã¢â‚¬ËœkekuranganÃ¢â‚¬â„¢ menjadi minder dan merasa kurang diterima ditengah-tengah keluarga.</p>
<p>Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya sibling rivalry?</p>
<p>Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi maupun intensitasnya.</p>
<p>1. Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik.</p>
<p>Pada saat hamil, libatkan anak untuk mempersiapkan kelahiran seperti ajak anak memilih pakaian ataupun perlengkapan bayi lainnya dan juga beritahukan bahwa adik barunya tidak akan merebut perhatian ibunya.</p>
<p>2. Beri setiap anak perhatian dan cinta yang khusus dan istimewa.</p>
<p>Berikanlah perhatian yang khusus pada setiap anak, terutama bila anak tidak sepandai atau semenarik saudaranya, sehingga ia juga merasa dirinya istimewa.</p>
<p>3. Jangan membanding-bandingkan anak.</p>
<p>Hindarkan perkataan &#8221;kamu kok bandel banget, lihat adikmu, sudah pintar, penurut lagi, tidak seperti kamu.. mama kehabisan akal menghadapi kamu..!&#8221; Ucapan ini tidak akan memotivasi anak namun justru perlahan-lahan menumbuhkan rasa cemburu dan kebencian terhadap saudaranya tersebut.</p>
<p>4. Jangan menjadikan anak sebagai pengasuh adiknya.</p>
<p>Jangan paksa anak yang lebih tua sebagai pengasuh adiknya. Karena anak akan merasa terbebani dan mempengaruhi anak menjadi lebih dewasa dari waktunya.</p>
<p>5. Buatlah pembagian tugas rumah masing-masing anak.</p>
<p>6. Kembangkan dan ajarkan anak bersikap empati dan memperhatikan saudaranya yang lain.</p>
<p>Bagaimanapun juga, persaingan antar saudara kandung (sibling rivalry) dalam keluarga tidak dapat dihindari. Namun, naluri keibuan, kasih sayang dan kepekaan anda sebagai orang tua akan sangat membantu meminimalkan perasaan cemburu dan permusuhan diantara mereka, sehingga akan timbul perasaan empati dan kesediaan sikap untuk berbagi dengan saudaranya yang lain.</p>
<p>Tidak ada yang dapat membahagiakan kecuali senantiasa melewatkan waktu-waktu anda bersama senyuman lucu buah hati anda.</p>
<p>&#8212;<br />
Disampaikan oleh : MELLY PUSPITASARI,PSI.<br />
(Mobile : 0815-3611-9777)<br />
Psikolog HUMANIKA (Human Development Centre) &amp; RS AWAL BROS Batam<br />
Disampaikan Pada Talk Show Batam TV, 18 Oktober 2003, Pukul 17.00; Hotel Nagoya Plaza-Batam</p>
<p>Jadwal praktek di &#8211; HUMANIKA: Senin, Selasa &amp; Sabtu : 18.00 &#8211; 21.00<br />
RS Awal Bros Batam : Rabu-JumÃ¢â‚¬â„¢at : 14.00 &#8211; 17.00</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/04/mengapa-anak-anak-saya-selalu-bertengkar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merangsang Kecerdasan Anak</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/04/merangsang-kecerdasan-anak/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/04/merangsang-kecerdasan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 10:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkembangan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2008/04/merangsang-kecerdasan-anak/</guid>
		<description><![CDATA[Orang tua mana yang tidak ingin anaknya cerdas. Namun, yang masih menjadi pertanyaan, apa saja yang dibutuhkan si kecil agar pertumbuhan otaknya menjadi optimal ? Otak merupakan benda yang paling vital dalam tubuh. Organ ini mengatur seluruh bagian dalam tubuh diantaranya gerakan motorik, pengaturan suhu tubuh, pengaturan tekanan darah, sekresi hormon,pernapasan, emosi dan berbagai macam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang tua mana yang tidak ingin anaknya cerdas. Namun, yang masih menjadi pertanyaan, apa saja yang dibutuhkan si kecil agar pertumbuhan otaknya menjadi optimal ?</p>
<p>Otak merupakan benda yang paling vital dalam tubuh. Organ ini mengatur seluruh bagian dalam tubuh diantaranya gerakan motorik, pengaturan suhu tubuh, pengaturan tekanan darah, sekresi hormon,pernapasan, emosi dan berbagai macam kegiatan manusia. <span id="more-63"></span><br />
Berbagai proses dalam otak itu yakni peenambahan sel (poliferasi), perpindahan sel (migrasi), perubahan sel (differensiasi), pembentukan system jalinan saraf antara satu dengan lainnya (sinaptogenesis) dan pembentukan selubung saraf (mielinisasi).</p>
<p>Yang penting dicatat, organ ini tumbuh secara luar biasa pada masa anak-anak. Sampai pada usia 2 tahun berat otak akan mencapai 75% otak dewasa. Menurut dr. Hartono Gunadi, Sp.A, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, sampai dengan bayi berusia 2 tahun, pertumbuhan dan perkembangan otak anak telah mencapai 90%.</p>
<p>Factor yang paling penting untuk pembentukan otak adalah factor nutrisi untuk mendukung pembentukan sel-sel otak. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap kehidupan annak, Anda perlu tahu nutrisi seperti apa yang berperan dalam pembentukan otak sang buah hati, mulai dari dalam kandungan hingga remaja.</p>
<p>Masih ada lagi hal yang penting pada proses pertumbuhan seorang anak, yakni proses tumbuh kembang. Makna pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, atau dimensi dalam tingkat sel, organ atau individu.</p>
<p>Sedangkan perkembangan lebih menitikberatkan pada aspek perubahan bentuk atau fungsi pematangan organ ataupun individu, termasuk perubahan aspek sosial atau emosional akibat pengaruh lingkungan.<br />
Yang jelas, untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, Anda harus mengetahui factor dan aspek apa saja yang mempengaruhinya.<br />
<strong>Peranan Nutrisi</strong></p>
<p>Cikal bakal otak mulai terbentuk pada minggu ketiga kehamilan berupa lempeng saraf, berubah menjadi tabung saraf pada minggu keempat dan mulai terbentuk otak besar, batang otak, otak kecil dan medulla spinalis pada minggu kelima kehamilan.</p>
<p>Setelah bayi lahir, maka usia yang paling penting dalam pertumbuhan otak adalah 0-2 tahun. Periode tersebut penting karena masa ini adalah periode emas. Dalam periode inilah terjadi perkembangan saraf otak yang tercepat, khususnya mielinisasi. Selanjutnya memang terus terjadi perkembangan hingga usia 5 tahun, namun tidak secepat pada usia sebelumnya. Dalam masa ini maka yang terjadi adalah pengorganisasian perkembangan dan hubungan antar jaringan (impuls) otak.</p>
<p>Factor nutrisi berperan mulai dari kandungan, jadi seorang ibu yang hamil harus memperhatikan asupan gizi, bukan hanya untuk dirinya, juga untuk sang janin. Yang harus diperhatikan adalah protein dan asam lemak esensial.</p>
<p>Air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi. Setelah bayi lahir, kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI Eksklusif sejak hari pertamanya sampai usia 6 bulan. Tapi setelah proses menyusui terlampaui, Anda harus memikirkan nutrisi sang anak.</p>
<p>Bagi Anda yang tak dapat menyusui anak karena sesuatu hal, pemilihan nutrisi untuk bayi harus dipertimbangkan dengan matang, demi perkembangan kecerdasannya. Nutrisi yang diyakini dapat meningkatkan kualitas otak anak adalah asam lemak DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat). Asam lemak ini merupakan asam lemak esensial, artinya tidak dapat dibentuk oleh tubuh sehingga harus ditambah dari luar.</p>
<p><strong>Faktor Pendukung</strong></p>
<p>Setelah otak seorang anak terbentuk, maka ada berbagai factor yang mempengaruhi perkembangannya. Teramat sayang bila anak Anda sudah memiliki sel-sel otak yang berkualitas, namun dibiarkan tanpa didukung perkembangannya.</p>
<p>Factor pendukung antara lain perhatian dan kasih sayang orang tua dan lingkungannya yang berpengaruh bagi aspek emosi. Mulai dari kontak fisik, sentuhan, belaian dan nyanyian.</p>
<p>Factor yang tak kalah pentingnya yaitu kebutuhan mental, misalnya proses pembelajaran, agama dan kepribadian. Factor pendukung inilah yang dapat menjadi stimulasi bagi perkembangan otak anak, juga akan mengaktifkan sel otak anak Anda sehingga perkembangannya akan lebih terpacu.<br />
Stimulasi ini penting sekali, sebab, jaringan saraf otak akan hilang dengan sendirinya apabila jarang atau tidak pernah sama sekali mendapat stimulasi.<br />
Stimulasi pada anak dapat diterima melalui sentuhan, pendengaran, penglihatan, pengecapan yang kesemuanya sudah dapat diproses sejak bayi baru lahir. Pemprosesan informasi atau stimulasi dari luar tergantung dari takaran dan derajat stimulasi yang diterima serta kemampuan si anak memproses stimulasi tersebut.</p>
<p>Interaksi orangtua dengan penuh kasih sayang dapat merangsang imajinasi dan gagasan kreatif anak. Stimulasi dapat dimulai dari dalam kandungan. Contohnya, si ibu yang hamil bisa mendengarkan musik sambil mengelus perutnya.</p>
<p>Contoh lain stimulasi setelah anak lahir adalah dengan bercerita atau mendongeng. Mendongeng selain dapat mengajarkan kata-kata, juga dapat menjadi simbolisasi pendidikan. Misalnya bagaimana berbuat baik dan bagaimana memecahkan suatu masalah.</p>
<p>Kemudian permainan juga merupakan stimulasi yang sangat tepat bagi anak. Usahakan memberi variasi permainan dan sangat baik kalau orangtua melibatkan diri secara langsung dalam permainan. Perlu diingat juga, jangan selalu melarang anak melakukan aktivitas sepanjang tidak berbahaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/04/merangsang-kecerdasan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIPS: Bagaimana Membuat Anak Suka Belajar</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/04/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/04/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 15:24:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2007/04/05/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR: 1. SUASANA YANG MENYENANGKAN adalah SYARAT MUTLAK yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR:</p>
<p>1. <strong>SUASANA YANG MENYENANGKAN</strong> adalah <strong>SYARAT MUTLAK</strong> yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.<span id="more-17"></span><br />
2. Membuat <strong>ANAK SENANG BELAJAR</strong> adalah<strong> JAUH LEBIH PENTING</strong> daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.</p>
<p>3. Kenali <strong>TIPE DOMINAN CARA BELAJAR ANAK</strong>, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.</p>
<p>4. Belajar dengan <strong>JEDA WAKTU ISTIRAHAT</strong> setiap 20 menit akan JAUH LEBIH EFEKTIF daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.</p>
<p>5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi SANGAT ANTUSIAS dan SEMANGAT untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak SESUAI <strong>DENGAN PERKEMBANGAN ANAK</strong>. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.</p>
<p>Oleh: Taufan Surana</p>
<p>&#8212;<br />
Catatan Redaksi:<br />
Artikel ini telah diterbitkan di Buletin Komite Sekolah TKIT/SDIT Full Day School Nur Hikmah Pondok Gede, BEKASI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/04/tips-bagaimana-membuat-anak-suka-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Ibu Harus Kembali Bekerja</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 02:49:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2007/03/05/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/</guid>
		<description><![CDATA[Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan berkecamuk. Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar. Namun di lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cuti melahirkan hampir habis. Anda pun harus bersiap-siap meninggalkan si kecil di rumah untuk kembali bekerja. Bagi kebanyakan ibu bekerja hal ini memang tidak mudah, bahkan mungkin sangat sulit dilakukan. Berbagai perasaan berkecamuk.</p>
<p>Di satu sisi, Anda sudah harus kembali bekerja atau tak sabar kembali mengaktualisasi diri dan berinteraksi dengan dunia luar.<span id="more-12"></span></p>
<p>Namun di lain sisi, perasaan ingin tetap bersama si kecil untuk memastikan ia mendapatkan perawatan terbaik dan perhatian sering mengganggu pikiran. Belum lagi rasa bersalah harus meninggalkan si kecil di rumah.</p>
<p>Mengatur agar keduanya berjalan baik memang akan menjadi tantangan bagi ibu bekerja. Namun, dengan perencanaan, komitmen dan niat yang kuat, Anda pasti bisa mengatasinya.</p>
<p> </p>
<p><strong>Sebelum kembali bekerja&#8230;..</strong></p>
<p><strong>a. Cari pengasuh yang dapat diandalkan.</strong></p>
<p>Inilah keputusan penting dan menjadi prioritas utama bagi ibu yang akan kembali bekerja, karena dapat membantu memberikan rasa tenang saat meninggalkan si kecil di rumah. Pilihannya bisa beragam, mulai sang nenek, saudara, baby sitter, atau menyerahkan pengasuhan pada lembaga penitipan anak terpercaya.</p>
<p><strong>b. Bicaralah dengan atasan Anda mengenai tugas dan jadwal Anda saat kembali bekerja.</strong></p>
<p>Jadi saat bekerja Anda pun sudah tahu persis apa yang diharapkan oleh atasan.</p>
<p> </p>
<p><strong>Saat waktu bekerja tiba&#8230; </strong></p>
<p><strong>a. Be organized!</strong></p>
<p>Bekerja dan mengasuh anak menuntut Anda untuk juga ahli dalam manajemen waktu. Organisasikan semua tugas dan tanggung jawab Anda dengan baik, agar tak ada satu hal pun yang tertinggal.</p>
<p><strong>b. Jaga kedekatan dengan si kecil</strong></p>
<p>Walaupun harus berada jauh di luar rumah, pastikan Anda tetap berhubungan dengannya, misalnya dengan menelepon si kecil untuk mengetahui apa yang sedang dia lakukan. Menurut Alan Greene, MD, spesialis anak dari Lucile Packard Childrens Hospital, California, bayi sudah dapat mengenali Anda sejak dalam kandungan dengan semua inderanya. Karena itu, baju, foto dan rekaman suara Anda yang sedang bercerita juga dapat menjadi alat yang efektif untuk membuat si kecil merasa dekat.</p>
<p><strong>c. Antisipasi bila si kecil sakit</strong></p>
<p>Tanyakan pada atasan Anda mengenai kemungkinan Anda bisa tidak masuk saat si kecil sakit. Jika tidak bisa, mintalah suami atau keluarga dekat lain untuk menggantikan Anda menjaganya.</p>
<p><strong>d. Ada kalanya rasa sedih dan bersalah begitu mengganggu pikiran</strong></p>
<p>Karena Anda tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan si kecil, cobalah untuk membicarakannya dengan pasangan atau ibu lain yang menghadapi situasi serupa. Tetapi jika perasaan ini semakin menjadi-jadi, segera konsultasikan dengan ahli untuk mengatasinya.</p>
<p><strong>e. Jangan paksa untuk melakukan semua hal sendiri</strong></p>
<p>Buatlah sistem yang membantu Anda melakukan beberapa tugas dengan bantuan suami, anggota keluarga lain,atau pun pembantu.</p>
<p><strong>f. Luangkan waktu untuk diri sendiri</strong></p>
<p>Walaupun sulit, Anda juga perlu waktu untuk diri sendiri. Saat si kecil tertidur atau dijaga oleh pasangan, manfaatkanlah waktu tersebut untuk sekedar berlama-lama di kamar mandi, membaca buku atau mendengarkan musik kesayangan dan mengembalikan kesegaran pikiran atau beristirahat. Karena bagaimanapun, jika pikiran Anda tidak dipenuhi stres, Anda pun bisa menikmati waktu bersama di kecil dengan lebih baik.</p>
<p><strong>g. Tetaplah memberikan ASI</strong></p>
<p>Tak ada yang dapat menyangkal kehebatan manfaat ASI bagi si kecil. Karena itu, berusahalah untuk tetap memberikan ASI padanya walaupun Anda sudah bekerja. Walau tidak bisa sesering sebelumnya, cobalah untuk menyusui si kecil waktu pagi atau malam hari. Bonusnya, Anda dan si kecil dapat merasakan kedekatan yang terjalin selama<br />
proses menyusui. Di luar itu, Anda dapat memompa ASI agar si kecil tetap bisa meminumnya saat Anda tidak berada di rumah.</p>
<p><strong>h. Jaga kesehatan dan rajin berolahraga</strong></p>
<p>Olahraga membuat sirkulasi darah menjadi lancar. Ini dapat mengurangi stres dan rasa penat tubuh. Pastikan Anda memiliki pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan seimbang dan bergizi. Kondisi kesehatan menjadi syarat mutlak bagi ibu berperan ganda. Jika Anda sakit-sakitan bisa dipastikan semuanya akan terbengkalai. Urusan anak dan rumah tak bisa dilakukan dengan baik, Anda pun akan sering minta izin. Situasi bisa menjadi rumit dan mempengaruhi penilaian di kantor.</p>
<p>sumber : sahabat nestle</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/jika-ibu-harus-kembali-bekerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan bagi Ibu dan Orang tua</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 15:22:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/1999/11/30/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ahli pendidikan bertanya pada tiga orang ibu yang ditunjuk dari para peserta sebuah pelatihan. Ahli pendidikan (AP) : &#8221;Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suami Anda, tiba-tiba telepon berdering, anak Anda menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suami Anda berkomentar : &#8216;Kapan kamu akan belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ahli pendidikan bertanya pada tiga orang ibu yang ditunjuk dari para peserta sebuah pelatihan.</p>
<p><strong>Ahli pendidikan (AP) :</strong> &#8221;Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan roti bakar untuk sarapan suami Anda, tiba-tiba telepon berdering, anak Anda menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suami Anda berkomentar : &#8216;Kapan kamu akan belajar memanggang roti tanpa menghanguskannya?&#8217; Kira-kira, bagaimana reaksi Anda?&#8221;<span id="more-15"></span><br />
<strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Langsung saya lemparkan roti itu ke mukanya!&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya akan katakan padanya, &#8216;Bangun dan bakar sendiri rotinya!&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Saya rasa saya akan menangis.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Lalu bagaimana perasaan Anda terhadap suami Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Semua :</strong> &#8221;Marah, benci, dan merasa dianiaya.&#8221;</p>
<p><strong>AP : </strong>&#8221;Mudahkah bagi Anda untuk menyiapkan roti bakar lagi pagi itu?&#8221;</p>
<p><strong>Semua : </strong>&#8221;Tentu saja tidak.&#8221;</p>
<p><strong>AP : </strong>&#8221;Dan jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda untuk membereskan rumah dan belanja kebutuhan sehari-hari dengan lapang dada?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Tidak. Saya akan merasa sumpek sekali sepanjang hari.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya tidak akan membeli apapun untuk keperluan rumah hari itu.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Katakanlah bahwa roti itu memang hangus. Tetapi suami Anda mengatakan kepada Anda, &#8216;Tampaknya pagi ini kamu lelah ya&#8230; telepon berdering, anak menangis, dan sekarang roti hangus&#8217;, kira-kira apa reaksi Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Saya tidak percaya bahwa yang berbicara itu adalah suami saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya akan merasa bahagia.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Saya akan merasa senang, dan saya fikir,saya akan memeluknya.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Mengapa Anda gembira? Bukankah anak tetap menangis, telepon berdering, dan roti sudah hangus..?&#8221;</p>
<p><strong>Semua :</strong> &#8221;Saya tidak akan peduli dengan semua itu.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Lalu apa yang berbeda kali ini?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Saya merasa suami saya baik sekali, karena tidak menyalahkan saya, melainkan memahami perasaan saya. Dia berpihak pada saya, bukan memusuhi saya.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 : </strong>&#8221;Saya akan melaksanakan tugas-tugas saya dengan senang hati.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Sekarang, mari kita bicara tentang suami tipe ketiga. Setelah roti itu hangus, ia memandang istrinya sambil mengatakan, &#8216;Nih, saya ajari kamu cara membakar roti!&#8221;&#8217;</p>
<p><strong>Semua :</strong> &#8221;Tidak. Suami macam itu lebih buruk lagi dari yang pertama, sebab ia menganggap saya dungu.&#8221;</p>
<p>Saat itu, ahli pendidikan itu mengatakan : &#8221;Bagaimana kalau apa yang suami Anda lakukan kepada Anda itu, Anda lakukan kepada anak Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 :</strong> &#8221;Sekarang saya mengerti tujuan Anda membuka dialog ini. Saya memang selalu mengkritik anak saya, tanpa saya sadari. Saya selalu mengatakan, &#8216;Kamu sudah besar, sudah harus tahu bahwa apa yang kamu lakukan itu salah&#8217;. Saya sekarang tahu mengapa ia marah dengan kata-kata saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Saya juga selalu mengatakan, &#8216;Biar saya tunjukkan padamu cara melakukan ini dan itu.&#8217; Dan sering kali anak saya marah saat mendengarnya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Saya sering mengkritik puteri saya hingga hal itu menjadi hal yang biasa bagi saya. Dan saya sering mengulang-ulang kalimat yang dulu diucapkan ibu saya kepada saya, jika memarahi saya, saat saya kecil. Dulu, saya juga sangat tidak suka mendengar ibu mengatakannya.&#8221;</p>
<p><strong>AP :</strong> &#8221;Kalau begitu, mari kita cari tahu yang mungkin kita pelajari dari kasus roti hangus ini. Apa yang membantu mengubah perasaan Anda dari benci menjadi senang terhadap suami Anda?&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 1 : </strong>&#8221;Saya yakin sebabnya adalah karena suami tidak menyalahkan saya,tetapi dia memahami perasaan saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 2 :</strong> &#8221;Tanpa mencela saya.&#8221;</p>
<p><strong>Ibu 3 :</strong> &#8221;Tanpa mendikte saya.&#8221;</p>
<p>Setelah sampai pada yang dituju, ahli pendidikan itu mengatakan, &#8220;Sekarang Anda semua mengerti bahwa apa yang Anda inginkan dari suami Anda, itulah yang diinginkan pula oleh anak-anak kita dari kita : PENGERTIAN dan EMPATI&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pendidikan-bagi-ibu-dan-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rasa Ingin Tahu Anak Besar = Anak Cerdas. Benarkah??</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/rasa-ingin-tahu-anak-besar-anak-cerdas-benarkah/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/rasa-ingin-tahu-anak-besar-anak-cerdas-benarkah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 15:55:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkembangan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2006/08/16/rasa-ingin-tahu-anak-besar-anak-cerdas-benarkah/</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda sudah banyak membaca buku ataupun menerima banyak informasi tentang perkembangan anak, pasti anda pernah mendapatkan pernyataan berikut: &#8220;Anak yg selalu bertanya atau rasa ingin tahunya besar adalah anak yg cerdas.&#8221; Benarkah pernyataan itu? Apakah memang demikian kenyataannya? (Semoga anda tidak menjadi ragu dengan 2 pertanyaan di atas.) Memang BENAR bahwa salah satu ciri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda sudah banyak membaca buku ataupun menerima banyak informasi tentang perkembangan anak, pasti anda pernah mendapatkan pernyataan berikut:</p>
<p>&#8220;Anak yg selalu bertanya atau rasa ingin tahunya besar adalah anak yg cerdas.&#8221;</p>
<p>Benarkah pernyataan itu? Apakah memang demikian kenyataannya?<span id="more-27"></span><br />
(Semoga anda tidak menjadi ragu dengan 2 pertanyaan di atas.)</p>
<p>Memang BENAR bahwa salah satu ciri anak cerdas adalah anak yg rasa ingin tahunya besar, selalu bertanya tentang banyak hal.</p>
<p>TETAPI, ada satu hal lagi yg perlu menjadi perhatian kita dalam menilai apakah anak tersebut BENAR-BENAR mempunyai ciri-ciri anak cerdas.</p>
<p>Apa itu?</p>
<p>Setelah anak mengajukan pertanyaan, ada 1 tahapan lanjutan yg bisa dijadikan acuan apakah dia benar-benar ingin tahu, yaitu:</p>
<p>&#8220;APAKAH ANAK BENAR-BENAR MEMPERHATIKAN JAWABANNYA.&#8221;</p>
<p>Anak yg cerdas akan bertanya banyak hal karena memang dia ingin tahu jawabannya. Biasanya, jika anak tersebut bertanya, dia akan &#8216;mengejar&#8217; jawaban kita dengan pertanyaan lanjutan, sampai kita orangtua menjadi kewalahan dalam menjawabnya.</p>
<p>Inilah salah satu ciri-ciri anak cerdas yang sebenarnya!</p>
<p>Kadang-kadang kita melihat anak yang selalu bertanya, tetapi sebelum dijawab anak tersebut sudah bertanya lagi hal yang lain lagi secara terus menerus. Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut tidak benar-benar ingin tahu terhadap apa yang ditanyakannya.</p>
<p>Menghadapi anak seperti itu, kita perlu mengarahkan sedikit demi sedikit, sehingga anak menjadi bisa memfokuskan dirinya terhadap apa yang ingin diketahuinya.</p>
<p>Kemudian, sarana TERBAIK untuk memuaskan keingin-tahuan anak adalah dengan menyediakan buku, dan mengajarkan anak MEMBACA sejak dini.</p>
<p>Aktivitas membaca mempunyai pengaruh terbesar dalam kehidupan berpikir seorang anak, yang pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap tingkat kecerdasan anak.</p>
<p>Untuk menstimulasi hal tersebut, kita perlu memberikan kegiatan lanjutan setelah anak selesai membaca dalam suasana yang menyenangkan. Misalnya, kita bisa membuat quiz tentang isi dari bacaan tersebut, dlsb. Hal ini perlu untuk melatih anak belajar menguasai isi bacaan tersebut.</p>
<p>Pemahaman terhadap isi bacaan merupakan tahap lanjutan yang sangat penting untuk diajarkan setelah anak mulai lancar membaca.</p>
<p>Yang lebih penting lagi:</p>
<p>JANGAN memaksa anak untuk membaca!</p>
<p>Beri kebebasan kepada anak untuk memilih buku yang ingin dibacanya.</p>
<p>INGAT, yang penting BUKAN APA yang dibaca oleh anak, TETAPI BAGAIMANA anak membacanya. Tentu saja, selama buku-buku tersebut sesuai untuk anak-anak.</p>
<p>Jangan samapai, misalnya, kita memaksa anak membaca buku tentang binatang, padahal anak sedang ingin membaca buku tentang angkasa luar.</p>
<p>Adil Fathi Abdullah dalam bukunya mengatakan:</p>
<p>&#8220;Andai kita berhasil membuat anak gemar dan menikmati aktivitas membaca serta menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan daya pikirnya, berarti kita telah memberikan kebaikan yang tidak ternilai dengan harta dunia.&#8221;</p>
<p>Anda setuju?</p>
<p>Saya sangat SANGAT sependapat dengan pernyataan diatas.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>catatan Redaksi: Banyak metode untuk mengajarkan anak membaca sejak dini. BalitaCerdas.com menyediakan FLASH CARD sebagai salah satu caranya. Informasi detilnya bisa dilihat di: www.balitacerdas.com/fc</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/rasa-ingin-tahu-anak-besar-anak-cerdas-benarkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Menghentikan Dot Tanpa Penolakan</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 15:27:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perilaku Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2006/06/12/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi kita yang sudah mengalami, menghentikan anak menggunakan dot (seperti halnya juga menghentikan ASI) menjadi saat-saat yang penuh &#8216;perjuangan&#8217;. Perasaan antara &#8216;harus tega&#8217; dan &#8216;kasihan&#8217; menjadi satu begitu melihat anak menangis tersedu-sedu hanya karena tidak boleh lagi minum pakai dot. Jika anda sudah membaca ebook saya &#8220;3 Tahun Pertama yg Menentukan&#8221; (http://ebook.balitacerdas.com), tindakan yg akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kita yang sudah mengalami, menghentikan anak menggunakan dot (seperti halnya juga menghentikan ASI) menjadi saat-saat yang penuh &#8216;perjuangan&#8217;. Perasaan antara &#8216;harus tega&#8217; dan &#8216;kasihan&#8217; menjadi satu begitu melihat anak menangis tersedu-sedu hanya karena tidak boleh lagi minum pakai dot.<span id="more-18"></span><br />
Jika anda sudah membaca ebook saya &#8220;3 Tahun Pertama yg Menentukan&#8221; (http://ebook.balitacerdas.com), tindakan yg akan sangat memudahkan kita dalam mengajarkan disiplin kepada anak, atau meminta anak menuruti apa yg kita inginkan, adalah dengan menerapkan SIGNAL AWAL.</p>
<p>Sekitar 2 minggu yang lalu, ketika anak ke-3 saya (Fuka) tepat menginjak usia 2 tahun 8 bulan, kami memutuskan untuk menghentikan Fuka minum pakai dot, dan BERHASIL dengan sangat memuaskan, tanpa ada penolakan dari Fuka, tanpa ada tangisan tersedu-sedu di malam hari.</p>
<p>Kali ini, penerapan signal awal kami terapkan kepada Fuka dalam waktu beberapa minggu sebelum Hari-H penghentian dot.</p>
<p>Caranya ?</p>
<p>Beberapa minggu sebelumnya, di setiap kesempatan yg memungkinkan saya dan istri sering mengatakan bahwa Fuka sudah besar, sambil pura-pura membandingkan tinggi badan Fuka yang sudah menjadi lebih tinggi.</p>
<p>Misalnya, &#8220;Kemarin Adek Bayi (note: Fuka memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Adek Bayi) tingginya segini (sambil menunjuk leher), sekarang sudah nambah tinggi jadi segini (sambil menunjuk kepalanya). Adek Bayi sudah besar ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Kebetulan ada keponakan yg umurnya baru 1 tahun, namanya Naufal, kami &#8216;manfaatkan&#8217; untuk membandingkan lebih lanjut. Kami sering mengatakan kepada Fuka, &#8220;Adek Naufal masih kecil banget ya.., makanya sukanya minum pakai dot&#8221;. Biasanya Fuka akan mengatakan, &#8220;Dot Adek Bayi dikasihkan ke Adek Naufal aja ya.. &#8216;kan Adek Bayi sudah besar&#8221;. Kemudian kami merespons, &#8220;Iya ya.. nanti kapan-kapan kita kasih ke Adek Naufal aja ya..&#8221;.</p>
<p>Dengan melakukan hal diatas beberapa waktu, Fuka mulai &#8216;terkondisikan&#8217; bahwa dia sudah besar, dan sudah tidak perlu lagi minum memakai dot.</p>
<p>Pada saat Hari-H tiba, sebelum saya berangkat ke kantor suasana pagi kami buat cukup menyenangkan, kemudian istri saya mengatakan kepada Fuka,&#8221;Mulai hari ini Adek Bayi tidak minum pakai dot lagi. Botol dotnya enaknya digimanain ya?&#8221;.</p>
<p>Pertanyaan diatas sengaja dilakukan supaya apa yang akan dilakukan menjadi keputusan dari Fuka sendiri dan bukan paksaan dari orang lain.</p>
<p>Karena sudah terkondisikan, Fuka menjawab,&#8221;Botol yang kecil dibuang aja, yang besar dikasihkan ke Adek Naufal&#8221;.</p>
<p>Kemudian istri saya mengambil plastik sampah,&#8221;Yang kecil dibuang disini, yang besar dimasukkan ke tas Ayah, nanti sama Ayah dikasihkan ke Adek Naufal&#8221;.</p>
<p>Kemudian Fuka diminta membuang sendiri tas plastik sampahnya, dan memasukkan sendiri botol dot besarnya ke dalam tas saya.</p>
<p>Sampai disini proses berjalan sangat lancar. Saya berangkat ke kantor, dan Fuka sudah sadar bahwa dia tidak punya botol dot lagi.</p>
<p>Beberapa jam setelah tiba di kantor, istri saya telephone menyampaikan kalau Fuka agak rewel tidak mau minum susu karena tidak pakai dot. Di telephone saya tegaskan kepada Fuka, &#8220;Tadi pagi &#8216;kan dot kecilnya sudah dibuang sama Adek Bayi sendiri. Yang besar sudah Ayah kasihkan ke Adek Naufal. Jadinya Adek Bayi harus minum susu pakai gelas dong ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Awalnya Fuka tetap tidak mau minum susu, tetapi menjelang siang akhirnya mau minum dengan gelas untuk anak balita (yang pegangannya ada dua itu loh..).</p>
<p>Biasanya, masalah terbesar timbul di malam hari pada saat anak terbangun minta minum susu, seperti yang dulu kami alami dengan anak pertama kami, Rihan (kebetulan anak kedua kami, Afi, tidak pernah minum pakai dot). Kamipun telah siap untuk &#8216;perang&#8217; melawan rasa kasihan yang akan terjadi.</p>
<p>Tetapi untuk kasus Fuka kali ini, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi. Kami tidak mengalami masalah di malam hari. Malam itu Fuka terbangun, melihat sekeliling sebentar, kemudian tidur lagi. Kami sendiri sempat kaget, kok Fuka tidak rewel mencari dotnya lagi.</p>
<p>Kami yakin ini bisa dilalui sebagai hasil yang telah kami lakukan beberapa waktu sebelumnya itu.</p>
<p>Setelah itu semuanya berjalan lancar, Fuka tidak lagi minum susu memakai dot.</p>
<p>Hal positif yang terjadi setelah itu adalah:</p>
<p>1. Fuka mau makan dengan baik, jauh lebih banyak dari sebelumnya.</p>
<p>Biasanya, jika anak terlalu tergantung dengan susu, anak menjadi susah makan. Maunya minum susu terus. Jika kita orangtua mengikuti terus kemauan anak yang seperti ini, akan sulit menghentikannya nanti.</p>
<p>2. Fuka tidak mengompol lagi.</p>
<p>Hal ini sangat memberi manfaat. Dengan memuji anak bahwa dia tidak mengompol, rasa percaya diri anak kelihatan meningkat. Setiap kali dia bangga bahwa dirinya bukan anak kecil lagi, sehingga anak menjadi lebih mandiri.</p>
<p>Selain itu, kita tidak perlu mengeluarkan lagi biaya pembelian diapers yang cukup mahal itu (lumayan &#8216;kan..).</p>
<p>3. Kami bisa istirahat lebih baik karena tidak perlu harus bangun membuatkan susu lagi.</p>
<p>Yang perlu DIINGAT dalam hal menghentikan dot ini, jika anak menjadi rewel, itu adalah hal yang SANGAT WAJAR.</p>
<p>Seperti halnya kita orangtua juga, anak awalnya pasti akan menjadi tidak nyaman dengan perubahan &#8216;negatif&#8217; yang dialaminya. Tugas kita untuk mencari alternatif kegiatan sehingga rasa tidak nyaman itu bisa dikurangi dan akhirnya bisa ditinggalkan.</p>
<p>Begitu kita memutuskan untuk melakukan penghentian dot, lakukan dengan tegas (BUKAN berarti sambil marah loh!). Jangan sampai kita menyerah begitu melihat anak menangis meminta dotnya. Jika hal ini dilakukan berulang kali, kita akan menjadi sangat kesulitan melakukannya lagi, karena anak merasa bahwa dia bisa merubah apa yang telah menjadi keputusan orangtuanya.</p>
<p>Jadi, untuk menghentikan suatu kebiasaan anak, faktor PENTING dan EFEKTIF yang bisa dilakukan adalah:</p>
<p>1. Pemberian SIGNAL AWAL kepada anak tentang perubahan yang akan terjadi pda dirinya.</p>
<p>2. Tindakan TEGAS tapi tetap dengan menunjukkan KASIH SAYANG sehingga anak memahami bahwa apa yang kita lakukan memang akan terjadi.</p>
<p>3. KERJASAMA orangtua dan pihak lain sehingga tidak terjadi perbedaan dalam memperlakukan anak.</p>
<p>Selamat Mencoba.. dan ditunggu cerita pengalaman anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/pengalaman-menghentikan-dot-tanpa-penolakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aneka Permainan dan Manfaatnya bagi si Batita</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2009/03/aneka-permainan-dan-manfaatnya-bagi-si-batita/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2009/03/aneka-permainan-dan-manfaatnya-bagi-si-batita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 08:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku dan Mainan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2006/02/23/aneka-permainan-dan-manfaatnya-bagi-si-batita/</guid>
		<description><![CDATA[Pilihlah sarana bermain yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak batita. Perhatikan pula aspek-aspek kebersihan dan keamanannya. Dunia anak usia batita memang dunia bermain. Boleh dibilang sepanjang waktu mereka diisi hanya dengan bermain, kecuali saat tidur. Baik bermain menggunakan alat dengan berbagai bentuk dan ukuran, maupun tidak. Si anak menggunakan tubuhnya sendiri sebagai alat bermain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pilihlah sarana bermain yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak batita. Perhatikan pula aspek-aspek kebersihan dan keamanannya.</p>
<p>Dunia anak usia batita memang dunia bermain. Boleh dibilang sepanjang waktu mereka diisi hanya dengan bermain, kecuali saat tidur. Baik bermain menggunakan alat dengan berbagai bentuk dan ukuran, maupun tidak. Si anak menggunakan tubuhnya sendiri sebagai alat bermain untuk berlari, meloncat-loncat, merangkak, dan sebagainya. Bisa dibilang tak ada tempat yang tidak bisa dijadikan tempat bermain baginya. Entah yang outdoor maupun indoor. <span id="more-6"></span>Tari Sandjojo, Psi., dari Cikal Jakarta memaparkan aneka jenis sarana bermain yang bisa sesuai bagi anak batita. Tentu saja lengkap dengan manfaatnya bagi berbagai aspek perkembangan anak.</p>
<h2>Perosotan</h2>
<p>Anak bisa menikmati sensasi ketinggian, terlebih saat ia berada di puncak perosotan dan siap meluncur. Belum lagi merasakan bagaimana tubuhnya terasa melayang kala meluncur ke bawah hingga akhirnya mendarat di ujung perosotan. Sebelum meluncur pun anak harus menjalani proses naik tangga. Motorik kasar anak benar-benar teruji, termasuk bagaimana menjaga keseimbangan tubuhnya saat menapaki anak tangga.</p>
<p>Selain itu, anak juga belajar mengenai peraturan. Di antaranya mesti tertib bergiliran naik satu per satu dan tidak boleh naik dari papan luncurnya agar tidak tertabrak anak lain di atasnya.</p>
<h2>Ayunan</h2>
<p>Anak akan merasakan kenikmatan tersendiri saat tubuhnya terayun secara kencang atau lambat maupun tinggi atau rendah dari tempat berpijak. Ia juga jadi belajar mengantisipasi bahaya. Jika ada yang mengayunnya dari depan atau belakang, misalnya, tentu harus diingatkan karena tindakan ini justru membahayakan si pengayun. Selain itu anak pun dilatih untuk mempertajam kemampuan kontrol dirinya agar tidak berayun terlalu cepat dan tidak pula kelewat lamban.</p>
<h2>Permainan Pasir</h2>
<p>Pilih butiran pasir yang lembut dan halus serta tidak menempel di kulit anak. Dengan dikenalkan pada permainan pasir, anak akan belajar mengenai tekstur kasar. Begitu juga tentang panas dan dinginnya pasir, maupun perubahan bentuk saat dicampur air. Bukankah ini berarti mengenalkan anak pada dunia ilmu pengetahuan, tepatnya belajar IPA secara sederhana.</p>
<p>Tentu saja dalam memilih pasir tersebut orang tua harus hati-hati mengingat material ini dapat pula menjadi tempat tinggal bagi binatang kecil. Bukan tidak mungkin ada binatang yang bisa membahayakan atau setidaknya membuatnya takut dan cedera.</p>
<h2>Stepping dan Balok Keseimbangan</h2>
<p>Imajinasi anak dirangsang melalui permainan ini. Arahkan anak seakan ia harus menyebrangi sungai yang deras dengan balok itu. Jika cuma berjalan dan berlalu begitu saja di atasnya, yang didapat anak hanyalah kesempatan melatih motorik dan keseimbangannya saja, tapi bukan imajinasinya.</p>
<h2>Mandi Bola</h2>
<p>Lewat permainan ini anak akan mengalami sensasi yang beragam. &#8221;Oh seperti ini ya rasanya berenang dalam kolam bola. Beda dengan masuk kolam air yang bisa membuatku tenggelam, terjun ke kolam ini empuk dan tidak membuatku tenggelam. Kalaupun aku tenggelam karena banyak gerak, aku tetap bisa bernapas, kok.&#8221; Belajar mengenai konsep warna dan bentukpun bisa diperoleh anak di sini. Begitu juga dengan belajar menentukan arah jika anak ingin main lempar bola.</p>
<h2>Main Air</h2>
<p>Umumnya anak usia batita hobi main air. Ia masih dikuasai rasa ingin tahu atau keinginan bereksplorasi, termasuk terhadap air. Meski ada juga yang takut terhadap air karena pernah mengalami pengalaman tak menyenangkan dengan material ini. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang justru membentengi rasa ingin tahu anak terhadap air dengan banyak melarang. Semisal jangan mandi lama-lama, enggak boleh main hujan-hujanan atau becek-becekan, dan sejenisnya.</p>
<p>Padahal menurut Tari, manfaat bermain air itu sendiri cukup banyak. Selain bisa merasakan adanya sensasi yang menyenangkan, mengapa tidak dioptimalkan dengan mengarahkan anak untuk mencintai dunia ilmu pengetahuan? Fasilitasi rasa ingin tahunya dan kegemarannya bermain air dengan menghadirkan wadah dalam berbagai bentuk dan ukuran. Mencampur air dengan cat air, pasir, atau tepung akan membantu anak menemukan banyak hal baru mengenai berat jenis, volume, perubahan bentuk, warna, dan sebagainya.</p>
<h2>Gorong-gorong/Terowongan</h2>
<p>Karena suasana yang dihadirkannya amat berbeda, gorong-gorong memberi sensasi tersendiri sebagai sarana bermain bagi anak. Saat berada didalamnya anak mendapati suasana yang agak gelap, sempit, lebih dingin dan membuat suaranya bergema. Anak pun belum bisa menerka-nerka apa yang bakal ditemuinya di depan sana, di setiap belokan ataupun di mulut gorong-gorong.</p>
<p>Latihan semacam ini akan meningkatkan kemampuan anak dalam hal antisipasi. Selain melatihnya mengatasi rasa takut saat menghadapi suasana berbeda. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi anak yang ujung-ujungnya akan mengasah kemampuan beradaptasi.</p>
<h2>Jala/Jaring</h2>
<p>Saat manapaki jala/jaring, sensasi ketinggian juga akan didapat anak sebagai salah satu manfaat. Manfaat lainnya adalah mengasah ketrampilan motorik, rasa percaya diri, keberanian, maupun keseimbangan dan koordinasi tubuh.</p>
<h2>Tumpangan Bergoyang</h2>
<p>Bentuknya bisa bermacam-macam, dari pesawat terbang, tokoh film kartun, mobil, motor, hewan, atau apa saja. Namun menurut Tari, keinginan batita mencoba permainan ini lebih karena ketertarikannya pada aneka bentuk yang ada. Sementara dari segi manfaatnya nyaris tidak ada, selain sensasi saat mainan bergoyang ke kiri dan kanan atau ke depan dan belakang secara teratur saat dimasukkan koin.</p>
<p><em><br />
</em><br />
Guna membantu orang tua memilihkan arena bermain yang baik bagi anaknya, Tari memberikan beberapa saran berikut:</p>
<h2>Tips Memilih Arena Bermain</h2>
<p> </p>
<p><em><br />
</em><br />
Jangan pernah memilih arena bermain yang sarananya sudah dipenuhi debu dan ditumbuhi jamur, lumut, apalagi sampai menimbulkan bau tak sedap. &#8221;Sebagai konsumen, kita berhak bertanya kepada pihak pengelola mengenai sistem perawatan arena bermain tersebut.&#8221;</p>
<h3>Utamakan Kebersihan</h3>
<p> </p>
<p>Tari menyayangkan banyaknya pengelola/pemilik arena bermain, baik outdoor maupun indoor, yang mengabaikan sisi perawatan dan kebersihan. Padahal biasanya keteledoran semacam ini yang menjadikan tempat bermain umum tidak layak lagi dipergunakan bagi anak.</p>
<p>Idealnya, setelah sekian jam digunakan atau dimanfaatkan oleh sejumlah anak, setiap mainan harus dibersihkan. Bahkan untuk meminimalkan peluang penularan penyakit tertentu, mainan juga harus dibersihkan secara berkala menggunakan bahan pembersih yang bisa membunuh jamur, bakteri, dan kuman.</p>
<p><em><br />
</em><br />
Pastikan keamanan setiap lekuk dan sudut sarana di tempat bermain yang akan digunakan dapat diandalkan. Jika kira-kira membahayakan, lebih baik urungkan saja niat mengajak main batita di tempat tersebut. Begitu juga materi yang mendominasi arena bermain itu. Amati aspek lunak-kerasnya, licin atau tidak dan tajam atau tidak semua benda yang ada. Termasuk aman tidaknya cat yang digunakan.</p>
<h3>Perhatikan Keamanan</h3>
<p> </p>
<p>Mengapa hal-hal kecil tadi perlu diperhatikan baik-baik? Tak lain karena pengalaman tidak enak kala anak terbentur atau terluka akan jauh lebih &#8221;dirasa&#8221; daripada manfaat permainan itu sendiri. Sayang sekali &#8216;kan, kalau karena pernah cedera anak jadi tak mau mencoba permainan ini-itu atau tidak lagi terangsang melakukan berbagai eksplorasi hingga potensi/kemampuan anak jadi tidak terasah.</p>
<p>Kolam mandi bola, contohnya, untuk anak batita idealnya harus dipisahkan dari kolam serupa untuk anak prasekolah. Mengapa? Sebagian batita, terutama batita awal usia 1-2 tahun, masih berada di fase oral. Inilah yang membuat mereka seringkali memasukkan bola-bola tersebut ke dalam mulutnya.</p>
<p>Pertimbangan lain, perkembangan motorik membuat anak prasekolah cenderung &#8221;rusuh&#8221; dengan melompat dan meloncat atau terjun bebas tanpa memperhatikan ada atau tidak orang lain yang mungkin bakal celaka dengan ulahnya. Di sinilah pentingnya orang tua menyeleksi arena bermain seperti apa yang dianggapnya layak.</p>
<p><em><br />
</em><br />
Pilihlah sarana bermain yang merangsang pergerakan otot batita, baik otot-otot kaki, tangan, maupun seluruh bagian tubuhnya. Jangan lupa perhatikan juga kesesuaian bentuk, ukuran, dan tingkat kesulitan masing-masing permainan tersebut. Balok keseimbangan, contohnya, pilihkan yang baloknya relatif lebar dan goyangannya tidak menghentak-hentak. Sedangkan untuk perosotan idealnya dilengkapi dengan matras atau &#8221;bantalan&#8221; pasir yang bisa meredam benturan saat anak mendarat. Lalu untuk permainan gorong-gorong, pilihkan yang jalan keluarnya langsung bisa ditemukan anak dengan panjang yang terjangkau.</p>
<h3>Cermati Aspek Kesesuaian</h3>
<p> </p>
<p><em><br />
</em><br />
Tinggalkan arena bermain yang sudah penuh sesak. Dalam kondisi semacam itu jangan harap anak bisa memetik manfaat dari aktivitas bermainnya. Begitu juga jika melihat antrian yang amat panjang hingga harus menunggu cukup lama untuk mendapat giliran. Bisa-bisa si batita bete duluan sebelum bermain. Padahal salah satu unsur penting bagi anak batita adalah pengalaman yang menyenangkan. Nah, kalau dia sampai terlalu lama menunggu, kalah berebut kesempatan dengan anak yang lebih besar, tentu saja permainan tersebut akan menjadi pengalaman tidak menyenangkan buat si batita. Meski di usia ini anak juga harus mulai diperkenalkan pada konsep berbagi, tapi tentu bukan dengan cara-cara seperti ini.</p>
<h3>Kuota/Kapasitas</h3>
<p> </p>
<p><em><br />
</em><br />
Yang dimaksudkan di sini adalah kualitas petugas atau kakak-kakak pendamping yang ada di lokasi arena bermain. Ini sangat perlu mengingat mereka harus menjaga, membimbing, dan mengarahkan anak bagaimana harusnya bermain dengan baik dan benar. Jika semua aturan main bisa dipatuhi, bukan cuma keselamatan dan kenyamanan bermain yang didapat anak, tapi juga manfaat lain. Semisal, &#8221;O&#8230;begini toh caranya menjaga keseimbangan di jalan yang licin.&#8221; Atau, &#8221;Supaya bonekanya enggak gampang hancur, aku mesti mencampur tepung ini dengan air.&#8221;</p>
<h3>Kualitas SDM</h3>
<p> </p>
<p>Tentu saja agar bisa memainkan perannya sebagai pendamping, jumlah SDM yang bertugas harus sesuai dengan kapasitas arena permainan itu sendiri. Jangan sampai satu penjaga harus mengawasi 10 anak yang sedang asyik bermain, contohnya.</p>
<p>&#8211;<br />
sumber: Gazali Solahuddin, Ferdi /nakita</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2009/03/aneka-permainan-dan-manfaatnya-bagi-si-batita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BARU: BukuKecil Seri BalitaCerdas</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/03/baru-bukukecil-seri-balitacerdas/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/03/baru-bukukecil-seri-balitacerdas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 01:21:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku dan Mainan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2006/10/10/baru-bukukecil-seri-balitacerdas/</guid>
		<description><![CDATA[&#8221;BukuKecil Seri BalitaCerdas&#8221; ini dikembangkan dengan cermat dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan kecerdasan anak. Produk ini didisain secara spesifik untuk anak usia 6 bulan s.d. 5 tahun, disesuaikan dengan ukuran tangan anak balita, dengan bentuk gambar dan warna yang dapat menstimulasi beberapa kecerdasan sekaligus&#8230; BukuKecil Seri BalitaCerdas TERBARU ini terdiri dari 6 SERI: Bermain ABC Warna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221;BukuKecil Seri BalitaCerdas&#8221; ini dikembangkan dengan cermat dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan kecerdasan anak. Produk ini didisain secara spesifik untuk anak usia 6 bulan s.d. 5 tahun, disesuaikan dengan ukuran tangan anak balita, dengan bentuk gambar dan warna yang dapat menstimulasi beberapa kecerdasan sekaligus&#8230;</p>
<p><span id="more-5"></span> BukuKecil Seri BalitaCerdas TERBARU ini terdiri dari 6 SERI:</p>
<ol>
<li>Bermain ABC</li>
<li>Warna Warni</li>
<li>Siapakah Aku</li>
<li>Tebak Bentuk</li>
<li>Ayo Berhitung</li>
<li>Buah Apakah Ini</li>
</ol>
<p>&#8221;BukuKecil Seri BalitaCerdas&#8221; ini dikembangkan dengan cermat dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan kecerdasan anak.</p>
<p>Contoh gambarnya bisa dilihat di: <a title="Contoh Gambar Buku Kecil Seri Balita Cerdas" target="_blank" href="http://www.balitacerdas.com/bukukecil">http://www.balitacerdas.com/bukukecil</a></p>
<p>Sebelum diluncurkan sekarang, BukuKecil ini telah dites kepada 100 orang, dan mendapatkan response yang sangat positif.</p>
<p>Karena keunikannya tapi tetap dalam format sederhana yang mampu memberikan stimulasi yang baik bagi anak, BukuKecil ini telah dimuat di koran SINDO (Seputar Indonesia) beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Produk ini didisain secara spesifik untuk anak usia 6 bulan s.d. 5 tahun, disesuaikan dengan ukuran tangan anak balita, dengan bentuk gambar dan warna yang dapat menstimulasi beberapa kecerdasan sekaligus, serta memungkinkan anak merasa nyaman bisa melakukan permainan buku kecil ini sendirian tanpa harus tergantung dengan orangtua ataupun pengasuhnya.</p>
<p>Manfaat yang akan diperoleh oleh anak dengan bermain &#8221;BukuKecil Seri BalitaCerdas&#8221; antara lain adalah :</p>
<ol>
<li>Melatih perkembangan motorik-halus anak</li>
<li> Menstimulasi daya imajinasi anak</li>
<li> Meningkatkan jumlah kosa kata anak</li>
<li> Mengembangkan kemampuan bahasa dan berhitung anak</li>
<li> Menstimulasi daya ingat visual anak</li>
<li> Melatih pengenalan bentuk, warna dan nama benda</li>
<li> Melatih konsentrasi anak</li>
<li> Menguasai huruf dengan cepat</li>
</ol>
<p>dalam suasana bermain yang menyenangkan.</p>
<p>Selain untuk buah hati anda sendiri, sangat PAS juga sebagai HADIAH keluarga, keponakan atau saudara.</p>
<p>Anda bisa mendapatkan BukuKecil ini di GRAMEDIA dengan harga Rp.15.000,- per buku.</p>
</p>
<p>BukuKecil ini HANYA dicetak 3.000 set saja untuk seluruh Indonesia. Jika anda kesulitan mendapatkannya, silahkan memesan melalui form pemesanan di:<br />
<a title="Buku Kecil Seri Balita Cerdas" target="_blank" href="http://www.balitacerdas.com/bukukecil">http://www.balitacerdas.com/bukukecil</a> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/03/baru-bukukecil-seri-balitacerdas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Warna pada Feses Bayi</title>
		<link>http://balitacerdas.com/new/2008/03/arti-warna-pada-feses-bayi/</link>
		<comments>http://balitacerdas.com/new/2008/03/arti-warna-pada-feses-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2008 15:58:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perkembangan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://balitacerdas.com/new/2006/08/16/arti-warna-pada-feses-bayi/</guid>
		<description><![CDATA[Umumnya warna tinja pada bayi dapat dibedakan menjadi kuning, coklet, hijau, merah dan putih/keabu-abuan. Untuk mengetahui normal atau tidaknya sistem pencernaan bayi kita, dapat dideteksi dari warna-warna tinja tersebut. KUNING Warna Kuning dapat diindikasikan sebagai fases normal untuk bayi, apabila bayi mendapat ASI yang penuh, tanpa campuran susu formula, warna kuning dari fases yang dihasilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Umumnya warna tinja pada bayi dapat dibedakan menjadi kuning, coklet, hijau, merah dan putih/keabu-abuan. Untuk mengetahui normal atau tidaknya sistem pencernaan bayi kita, dapat dideteksi dari warna-warna tinja tersebut.<span id="more-28"></span><br />
KUNING</p>
<p>Warna Kuning dapat diindikasikan sebagai fases normal untuk bayi, apabila bayi mendapat ASI yang penuh, tanpa campuran susu formula, warna kuning dari fases yang dihasilkan lebih cerah dan cemerlang(didominasi warna kuning. Yang berarti sibayi mendapat ASI penuh dari foremik (ASI depan) dan hindmilk(ASI belakang).</p>
<p>HIJAU</p>
<p>Warna Hijau pada fases bayi masih dikategorikan normal, tapi warna ini tidak boleh terus-menerus muncul karena hal tersebut berarti cara ibu memberikan ASI kurang tepat/belum benar (yang terhisap oleh bayi hanya foremik saja, kasus tersebut tejadi kalau produksi ASI melimpah.dimana sibayi selalu mengisap ASI depan terlebih dahulu yang mempunyai kandungan gula &amp; laktosa tapi rendah lemak yang membuat bayi cepat lapar kembali &amp; ASI belakang yang mengandung banyak lemak akan terhisap setelah foremik habis, padahal hidmik (ASI belakang) inilah yang membuat tinja menjadi kuning.</p>
<p>MERAH</p>
<p>Warna Merah pada fases bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah yang menyertainya, darah tersebut bisa berasal dari tubuh bayi atau dari ibunya yang terisap pada saat proses persalinan,jika darah tersebut berasal dari ibunya, maka fasesnya akan ditemukan bercak hitam &amp; berlangsung 1 s/d 2 hari. Apabila darah tersebut bukan berasal dari 2 hal tersebut kemungkinan lainnya bisa karena alergi susu formula atau penyumbatan pada usus &amp; hal tersebut perlu penanganan cepat danh segera berkonsultasi pada dokter.</p>
<p>PUTIH/KEABU-ABUAN</p>
<p>Jika warna Putih/keabu-abuan pada kotoran bayi terjadi, maka hal tersebut harus segera diwaspadai. karena warna putih menunjukan gangguan yang cukup riskan yang mungkin disebabkan gangguan pada hatu/penyumbatan saluran empedu pada bayi. yang berarti cairan empedunya tidak dapat mewarnai tinjanya, yang berarti sibayi harus segera dibawa kedokter.</p>
<p>BENTUK FASES</p>
<p>Feses bayi di dua hari pertama setelah dilahirkan berbentuk aspal lembek setelah itu akan bergumpal seperti jeli, padat, berbiji &amp; berupa cairan. Fases bayi yang diberi ASI ekslusif akan berbentuk pasta/kream, berbiji &amp; cair seperti menceret</p>
<p>FREKUENSI BAB</p>
<p>Frekuensi BAB pada bayi berbeda-beda khususnya diminggu keempat &amp; keliam yang pertama, dalam sehari bisa lima kali.bayi yang minum ASI ekslusif bisa gak BAB sampai empat hari bahkan sampai tujuh hari, jangan kawatir itu normal selama perkembangannya tidak terganggu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://balitacerdas.com/new/2008/03/arti-warna-pada-feses-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

